Kemacetan panjang yang masih terjadi di Pelabuhan Ketapang pasca arus balik Lebaran 2026 mendapat sorotan dari Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (DPP GAPASDAP).
Mereka menilai, kepadatan yang terjadi bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah kapal, melainkan keterbatasan fasilitas dermaga.
Ketua Umum GAPASDAP, Khoiri Soetomo, menegaskan bahwa jumlah armada sebenarnya mencukupi, namun tidak diimbangi dengan kapasitas sandar yang memadai.
“Masalah utama bukan pada kapal, tetapi pada dermaga yang belum mampu menampung operasional secara optimal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (31 Maret 2026).
Baca Juga : Antusias Tinggi, Pendaftaran Motis Dipadati Warga Jelang Mudik
Di lintasan Ketapang–Gilimanuk, kata dia, terdapat sekitar 56 kapal yang tersedia. Namun, kapasitas ideal operasional harian hanya sekitar 28 kapal.
Kondisi tersebut membuat banyak kapal harus menunggu giliran sandar, bahkan ketika jumlah kapal yang dioperasikan ditambah.
“Ketika dipaksakan lebih banyak kapal beroperasi, justru waktu tunggu sandar semakin lama. Kapal banyak mengapung di laut dan jumlah perjalanan menurun,” jelas Khoiri.
Baca Juga : Tak Sabar Antre, Sopir Bus Ngeblong Ditilang Polisi

Ia menambahkan, situasi ini berdampak langsung pada pengguna jasa, mulai dari antrean panjang kendaraan di darat hingga menurunnya kenyamanan penumpang selama perjalanan.
Selain itu, operator kapal juga menghadapi tekanan ekonomi akibat kebijakan operasional selama masa angkutan Lebaran.
“Operator sudah berkorban, mulai dari tarif yang tidak naik, hingga risiko operasional yang meningkat. Tapi hasilnya belum maksimal karena sistem belum mendukung,” katanya.
GAPASDAP juga mengapresiasi kerja keras seluruh pihak, mulai dari Kementerian Perhubungan, aparat kepolisian, hingga operator lapangan yang telah berupaya menjaga kelancaran arus mudik dan balik.
Namun demikian, mereka menilai sistem yang berjalan saat ini masih perlu pembenahan secara menyeluruh, terutama dalam hal fleksibilitas kebijakan dan integrasi manajemen trafik.
Khoiri menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang yang berbasis data dan terintegrasi antarinstansi untuk menghindari persoalan serupa di masa mendatang.
“Evaluasi harus dimulai dari sekarang. Jangan menunggu mendekati musim liburan berikutnya,” tegasnya.
Sebagai solusi, GAPASDAP mendorong pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan dan penambahan dermaga secara bertahap, khususnya di pelabuhan-pelabuhan utama.
Ia juga mengingatkan, tanpa perbaikan infrastruktur yang signifikan, potensi kemacetan akan terus berulang setiap musim liburan.
“Kalau tidak segera dibenahi, ini bisa menjadi bom waktu kemacetan di mulut pelabuhan,” pungkas Khoiri.
Handoko Khusumo
Editor : JTV Banyuwangi

















