MOJOKERTO - Sorak penonton dan suara peluit wasit di stadion kini tinggal kenangan bagi Fajar Cahyo Wibowo. Mantan pemain PS Mojokerto Putra itu tak lagi mengejar gol di lapangan hijau. Ia kini memilih mengganti gemuruh tribun menjadi merdunya kicau burung kenari di halaman rumahnya, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
Fajar memutuskan menggantung sepatu setelah delapan tahun berkarier sebagai pesepak bola profesional. Bukan akhir cerita, justru awal babak baru. Dari sebuah bangunan sederhana berukuran tiga kali enam meter di depan rumah, Fajar menata masa depan lewat bisnis burung kenari impor yang kini dikenal luas di Mojokerto dan sekitarnya.
“Sejak kecil saya memang menyukai burung kenari,” ujar Fajar.
Ketertarikan pribadi itu kemudian berkembang menjadi keseriusan. Fajar mulai menekuni dunia perburungan secara bertahap, diawali dengan memelihara dan memperjualbelikan burung kenari lokal.
Lima tahun terakhir, ia serius mengembangkan usaha kenari impor yang didatangkan langsung dari Iran, Turki, hingga Italia. Jenis-jenis premium seperti Rasmi, Scotch Fancy, dan Yorkshire mengisi deretan sangkar, berdampingan dengan kenari lokal yang tak kalah diminati.
“Setelah menekuni kenari lokal, pada 2022 hingga 2023 saya mulai beralih ke kenari impor. Awalnya jumlahnya masih terbatas, lalu sejak sekitar setahun terakhir saya mulai mengambil dalam volume yang lebih banyak,” terangnya.
Harga burung-burung eksotis itu tentu tak murah. Satu ekor kenari impor dibanderol mulai Rp5 juta hingga Rp12 juta. Sementara kenari lokal dijual di kisaran Rp150 ribu sampai Rp700 ribu per ekor. Namun kualitas dan perawatan yang terjaga membuat pasar Fajar terus tumbuh.
Penjualan dilakukan secara daring melalui media sosial. Pembeli datang dari berbagai daerah, terutama Pulau Jawa dan Bali. Dari usaha yang digelutinya, Fajar mengaku omzet per bulan bisa menembus Rp100 juta.
Bagi Fajar, bisnis ini bukan sekadar soal keuntungan. Sebagai bapak dua anak dan mantan atlet, ia paham betul pahitnya kenyataan ketika karier di olahraga harus berhenti lebih cepat. Lewat kisah hidupnya, Fajar ingin menyampaikan pesan sederhana namun kuat bahwa hidup tidak berhenti ketika sepak bola usai. (*)
Editor : A. Ramadhan



















