Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang sangat pesat kini membawa dampak lingkungan yang serius terhadap konsumsi sumber daya air bersih. Setiap data yang diproses melalui rak-rak server komputer di pusat data berskala besar membutuhkan pasokan air yang masif guna mendinginkan perangkat agar tidak kepanasan. Studi akademisi di Amerika Serikat menemukan bahwa setiap satu respons dari model bahasa seperti GPT-3 milik OpenAI dapat menghabiskan dua hingga 10 sendok teh air.
Mengingat platform seperti ChatGPT melayani hingga satu miliar kueri setiap harinya, konsumsi air industri AI diprediksi akan terus melonjak drastis dari tahun ke tahun. Lonjakan penggunaan air ini meningkat tajam sejak 2020 dan diperkirakan bakal berlipat ganda pada 2030. Sebagai ilustrasi, Google mencatat pusat datanya menarik 37 miliar liter air pada 2024, di mana 29 miliar liter di antaranya habis dikonsumsi.
Jumlah tersebut setara dengan rekomendasi minum harian PBB sebesar 50 liter per hari untuk 1,6 juta orang selama setahun penuh. Perusahaan teknologi umumnya menyukai air bersih dan tawar untuk mencegah bakteri serta korosi, meskipun sebagian mulai melirik air non-minum seperti air laut.
Berdasarkan laporan, Google menggunakan 14 persen airnya dari daerah berisiko kelangkaan tinggi, sementara Microsoft dan Meta masing-masing mengambil 46 persen dan 29 persen dari wilayah dengan ketersediaan air terbatas. Uniknya, daerah kering justru menjadi incaran perusahaan AI karena luasnya lahan, infrastruktur listrik yang memadai, serta akses energi terbarukan.
Baca Juga : Mengenal Passkey, Fitur Login Tanpa Password yang Diklaim Lebih Aman
Kendati demikian, ekspansi pusat data ini sering mendapat penolakan keras dari warga lokal yang mengalami krisis air, seperti kelompok Your Cloud is Drying Up My River di Spanyol yang memprotes keras pembangunan tersebut hingga membuat Google mengubah rencananya.
Sebagai respons atas ancaman krisis ini, raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, AWS, dan Meta telah menetapkan target ramah air pada 2030. Menurut Prof. Ren dari University of California, alternatif solusi yang bisa digunakan adalah pendingin kering atau udara, meskipun metode tersebut membutuhkan pasokan daya listrik yang jauh lebih besar. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe

















