NGAWI - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak pada perjalanan ibadah umrah. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ngawi melaporkan adanya sejumlah jemaah asal Ngawi yang tertahan di Arab Saudi akibat pembatalan jadwal penerbangan secara massal.
Kepala Kemenag Ngawi, Masun Azali Amrullah, membenarkan bahwa beberapa jemaah belum dapat kembali ke Tanah Air. Meskipun jumlah pastinya masih dalam pendataan karena proses perjalanan umrah dikelola langsung oleh biro perjalanan dan Kemenag Provinsi, pihaknya meminta jemaah untuk tetap tenang.
"Imbauan kami kepada jemaah umrah yang saat ini masih berada di Mekah maupun Madinah agar senantiasa berkoordinasi dengan biro masing-masing untuk memantau perkembangan situasi. Mohon terus jalin komunikasi terkait teknis kepulangan," ujar Masun Azali Amrullah.
Beliau juga mengingatkan calon jemaah yang belum berangkat agar mempertimbangkan kembali jadwal keberangkatan hingga situasi di Timur Tengah dinyatakan benar-benar aman.
Fokus pada Kepulangan Jemaah
Di sisi lain, Pamuji Setiawan, pemilik biro perjalanan umrah Dewangga Cabang Ngawi–Madiun, menyampaikan bahwa jemaah asal Ngawi yang berangkat melalui bironya telah kembali sebelum konflik memanas. Namun, saat ini masih ada jemaah dari wilayah lain di bawah naungan grupnya yang tertahan.
"Menyikapi kondisi yang memanas, kami mengikuti saran pemerintah mengenai apa yang terbaik bagi jemaah. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan kepulangan jemaah yang masih berada di Arab Saudi," tutur Pamuji.
Ia menjelaskan bahwa maskapai anak perusahaan Singapore Airlines yang digunakan pihaknya menerapkan standar keamanan ketat, sehingga beberapa penerbangan dibatalkan sejak konflik meningkat. Hingga kini, maskapai tersebut belum kembali beroperasi secara normal di jalur terdampak.
Biaya Penginapan Ditanggung Maskapai
Menurut Pamuji, saat ini hanya ada tiga maskapai yang terpantau masih beroperasi, yaitu Saudia, Garuda Indonesia, dan Lion Air. Dari Dewangga Group sendiri, terdapat enam penerbangan yang masih tertahan di Arab Saudi. Dua kelompok jemaah di antaranya seharusnya sudah mendarat di Indonesia sekitar tiga hari yang lalu.
Selama masa tunggu kepulangan, seluruh biaya penginapan dan kebutuhan jemaah ditanggung oleh pihak maskapai. Para jemaah saat ini ditempatkan di beberapa hotel di wilayah Jeddah.
Pemerintah terus mengimbau seluruh biro perjalanan umrah untuk memprioritaskan keselamatan dan menunda keberangkatan baru hingga ruang udara di kawasan konflik dinyatakan aman untuk penerbangan sipil. (Yona Salma)
Editor : Iwan Iwe



















