Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga penanda identitas masyarakat. Perbedaan kosakata antardaerah sering kali menunjukkan kekayaan budaya dan kebiasaan penuturnya. Dalam bahasa Jawa, misalnya, terdapat kata dalan dan embong yang sama-sama merujuk pada ‘jalan’, tetapi memiliki kekhasan penggunaan.
Kata dalan dikenal luas dalam bahasa Jawa standar. Kata ini digunakan untuk menyebut jalur yang dilalui orang atau kendaraan. Contohnya, Aku arep menyang kantor liwat dalan iki yang berarti ‘Saya akan ke kantor melewati jalan ini’. Selain bermakna jalan secara fisik, dalan juga dapat digunakan secara kiasan, seperti dalam ungkapan dalan urip yang berarti ‘jalan hidup’.
Sementara itu, kata embong lekat dengan bahasa Jawa Surabaya atau Suroboyoan. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat dapat mengatakan Embong iki rame banget, yang berarti ‘Jalan ini ramai sekali’. Bagi penutur Suroboyoan, kata embong menghadirkan nuansa lokal yang akrab dan khas.
Keberadaan kata embong tidak hanya ditemukan dalam percakapan. Kata ini juga hadir dalam nama-nama jalan di Surabaya, seperti Embong Malang, Embong Sawo, Embong Kenongo, dan Embong Wungu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kosakata daerah dapat bertahan tidak hanya melalui tuturan, tetapi juga melalui penamaan ruang publik.
Meskipun sama-sama merujuk pada ‘jalan’, dalan dan embong memperlihatkan variasi leksikal, yakni perbedaan pilihan kata untuk menyatakan konsep yang sama atau berdekatan. Pilihan kata tersebut dapat dipengaruhi oleh wilayah, lingkungan pergaulan, dan kebiasaan berbahasa. Namun, embong tidak semata-mata digunakan di Surabaya karena kosakata ini juga dikenal di wilayah lain.
Perbedaan dalan dan embong menjadi contoh bahwa bahasa Jawa memiliki keragaman yang menarik untuk ditelusuri. Setiap daerah dapat mengembangkan kekhasan kosakatanya tanpa kehilangan hubungan dengan bahasa Jawa secara lebih luas.
Pada akhirnya, sebuah kata dapat menyimpan cerita tentang masyarakat yang menggunakannya. Dari dalan dan embong, kita belajar bahwa jalan bukan hanya ruang yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, tetapi juga pintu untuk mengenal kekayaan bahasa dan identitas lokal.
Oleh: Siti Komariyah (Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur)
Editor : Iwan Iwe























