Kemampuan berbicara di depan umum saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi banyak kalangan, baik di tingkat sekolah, karir juga sosial, akan tetapi berbicara di depan umum sering kali menjadi tantangan besar bagi banyak orang. Jantung berdebar, tangan berkeringat, suara bergetar, deg deg an, takut salah, malu, rangkaian sensasi ini seringkali membuat seseorang enggan tampil atau merasa tidak percaya diri.
Fenomena ini dikenal sebagai public speaking anxiety. Penelitian saya menemukan bahwa kecemasan berbicara di depan umum dialami oleh berbagai kalangan, dari pelajar, pekerja, hingga profesional yang sebenarnya sudah sering tampil. Apakah itu wajar? Iya itu wajar, asal tidak berlebihan, karena apapun kalau sudah berlebihan itu tidak bagus.
Berdasarkan teori yang saya pelajari dari James C. McCroskey, beberapa faktor yang yang memengaruhi seseorang mengalami kecemasan berbicara di depan umum ada 4 yaitu: Affective (perasaan), Cognitive (pikiran), Fisiologis (fisik) dan Behaviour (perilaku).
Semua dapat diatasi kalau mau belajar dan berusaha, karena kemampuan berbicara di depan umum itu butuh proses, latihan serta praktik dan praktik. Sekarang mari kita pelajari dulu faktor – faktor yang memengaruhi kecemasan berbicara di depan umum, agar kecemasan berbicara di depan dapat dikelola lebih efektif.
Baca Juga : Kartini di Era Media Sosial: Antara Panggung Pemberdayaan dan Tekanan Psikologis
Perasaan (Affective)
Ini merupakan emosi yang muncul sebelum seseorang berbicara di depan umum, gelisah, ragu, tidak nyaman, ketakutan yang terkadang tidak jelas. Banyak orang merasa terancam secara psikologis, seakan akan sedang menghadapi situasi yang tidak bersahabat. Perasaan tiap orang berbeda-beda, semakin kuat perasaan negatif ini muncul, semakin sulit menjaga ketenangan.
Pikiran (Cognitive)
Dalam ilmu psikologi bahwasanya pikiran itu memengaruhi perilaku, maka dari itu untuk dapat mengelola kecemasan berbicara di depan umum, mengelola pikiran juga harus menjadi perhatian. Biasanya kecemasan muncul karena self-talk negatif, seperti, “Bagaimana kalau salah?” “Audiens suka apa tidak ya?” “Aku tidak bisa jelasin ini.” “Kalau ada pertanyaan terus gimana?” “Waduh mereka lebih pintar daripada aku.” Serta masih banyak lagi self-talk negatif yang seringkali muncul. Pikiran-pikiran seperti ini menciptakan lingkaran cemas yang membuat seseorang semakin tidak yakin terhadap kemampuannya.
Fisiologis (Physiological)
Ketika seseorang mengalami kecemasan, maka terdapat respon tubuh melalui perubahan fisik. Perut tiba tiba mual, jantung berdebar, tangan gemetar, mulut kering, atau badan terasa panas. Inilah reaksi alami dari sistem saraf yang mempersiapkan tubuh untuk “melawan atau lari”. Meski wajar, gejala ini sering membuat seseorang semakin panik.
Perilaku (Behavioral)
Seseorang yang mengalami kecemasan berbicara di depan umum, tampak juga pada perilakunya, seperti menghindari kontak mata, bicara terlalu cepat agar segera selesai, banyak kata kata eeee…..apa namanya….atau tubuh menjadi kaku, bahkan ada yang memilih menghindar ketika mendapat kesempatan berbicara di depan umum. Perilaku ini justru memperkuat rasa cemas, karena seseorang tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk berlatih.
Apakah kecemasan berbicara di depan umum dapat dikelola ?
Setiap masalah pasti ada solusinya kalau kita mau berusaha. Begitu juga dengan kecemasan berbicara di depan, dapat diatasi. Beda orang beda masalah dan beda solusi, tetapi dengan strategi yang tepat, kecemasan dapat berubah menjadi energi positif. Bahkan menjadi motivasi internal bagi seseorang. Beberapa langkah efektif yang dapat dilakukan:
Persiapan
Tanpa persiapan sama halnya mempersiapkan kegagalan. Pembicara hebatpun tetap mempersiapkan dirinya ketika akan berbicara di depan umum, tetapi kadarnya tiap orang berbeda-beda. Latihan berkali-kali membuat otak merasa lebih aman. Semakin siap materi, semakin kecil rasa cemas.
Teknik Pernapasan dan Relaksasi
Tekni pernafasan membantu seseorang lebih rileks untuk menenangkan diri. Tarik napas perlahan, tahan 2–3 detik, lalu hembuskan. Ini menenangkan detak jantung dan pikiran.
Visualisasi Positif
Teknik ini membantu seseorang berpikir positif, membayangkan diri tampil dengan baik. Terbukti efektif mengurangi pikiran negatif.
Praktik Bertahap
Latihan itu wajib, mulailah dari audiens kecil sebelum tampil di forum besar.
Mengubah Mindset
Seseorang yang berharap sempurna itu memang bagus, tetapi malah menjadi beban. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Tidak ada pembicara hebat yang tidak pernah salah.
Kecemasan berbicara di depan umum adalah hal yang sangat wajar. Teori McCroskey membantu kita memahami bahwa kecemasan bukan hanya soal gugup, tetapi perpaduan emosi, pikiran, reaksi tubuh, dan perilaku. Dengan mengenal keempatnya, kita bisa menemukan strategi yang paling cocok untuk diri kita.
Lakukan latihan yang konsisten dan pengelolaan diri yang baik, setiap orang dapat menjadi pembicara yang percaya diri, tenang, dan berwibawa. Kuncinya: mulai dari langkah kecil, terima ketidaksempurnaan, dan terus bertumbuh
Referensi:
Lestari, Bawinda Sri; Parung, Joniarto; Christian, Frikson. (2022). Self-Efficacy And Audience Response To Public Speaking Anxiety In Professional Psychology Students (S2). Journal of Positive School Psychology (JPSP), 6(8), 7579–7586
Lestari, Bawinda Sri; Parung, Joniarto; Christian, Frikson. (2021). Public Speaking Anxiety Reviewed from Self-Efficacy and Audience Response on Students: Systematic Review. In: Proceedings of the International Conference on Psychological Studies (ICPSYCHE 2020)
McCroskey, J. C. (1977). Oral communication apprehension: A summary of recent theory and research. Human Communication Research, 4(1), 78–96.
McCroskey, J. C. (1984). The communication apprehension perspective. In J. A. Daly & J. C. McCroskey (Eds.), Avoiding communication (pp. 13–38). Sage.
McCroskey, J. C., & Beatty, M. J. (1998). Communication apprehension. In J. C. McCroskey, J. A. Daly, M. M. Martin, & M. J. Beatty (Eds.), Communication and personality (pp. 216–245). Hampton Press.
Dr. Bawinda S. Lestari, S.H., M.Psi., CPS., Cht
Dosen Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Parktisi Psikologi & Komunikasi
Self Development Expert
IG @itsbawinda
Editor : M Fakhrurrozi



















