KOTA MALANG - PortalJTV.com – Sebanyak 896 wisudawan Universitas Wisnuwardhana (UNIDHA) Malang resmi menyelesaikan pendidikan program sarjana dan pascasarjana dalam prosesi wisuda di salah satu Hotel di Kota Malang, Sabtu (10/10/2026). Dari ratusan lulusan tersebut, 15 wisudawan berhasil meraih predikat terbaik, dengan tiga di antaranya mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Momentum wisuda ini bukan sekadar seremoni penyerahan gelar akademik. Para lulusan juga dihadapkan pada tantangan baru untuk membuktikan kompetensi, menjaga integritas, hingga menciptakan peluang di tengah persaingan dunia kerja yang semakin dinamis.
Rektor UNIDHA Malang, Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H., berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah meninggalkan bangku kuliah. Menurutnya, ijazah menjadi penanda selesainya satu jenjang pendidikan, sekaligus awal untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Sebelum Saudara melangkah keluar dari gerbang kampus ini, izinkan saya menitipkan lima pesan. Yang pertama, jadilah pembelajar sepanjang hayat. Ijazah adalah tanda bahwa Saudara telah menyelesaikan satu jenjang, bukan tanda bahwa belajar telah selesai,” ujar Suko Wiyono dalam sambutannya.
Ia mendorong lulusan sarjana untuk mempertimbangkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sementara bagi lulusan pascasarjana, pengembangan ilmu diharapkan terus dilakukan melalui penelitian dan karya tulis.
Pesan kedua yang ditekankan Rektor adalah menjaga integritas dalam setiap langkah kehidupan, baik di lingkungan kerja maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
“Kecerdasan dapat membuka pintu, tetapi hanya kejujuran yang membuat pintu itu tetap terbuka. Dalam pekerjaan dan kehidupan, pilihlah jalan yang benar meskipun tidak selalu jalan yang paling mudah,” tegasnya.
Suko juga mendorong para alumni agar berani memulai sesuatu yang baru dan menghadirkan inovasi. Ia menilai lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah untuk mencari pekerjaan, tetapi juga harus mampu membaca persoalan di sekitarnya dan menawarkan solusi.
“Beranilah memulai dan berinovasi. Jangan hanya menjadi pencari kerja, tapi jadilah pencipta lapangan kerja. Banyak persoalan di sekitar kita, di desa, di sekolah, dan di pasar, yang menunggu solusi dan tangan-tangan terampil seperti Saudara-saudara wisudawan,” lanjutnya.
Pesan berikutnya berkaitan dengan keberagaman. Menurut Suko, para lulusan harus mampu menjadi perekat di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang suku, agama, budaya, dan kondisi ekonomi yang berbeda.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai Bhinneka Tunggal Ika dan menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Rapatlah kebhinekaan. Seperti teladan Raja Wisnuwardhana yang mendamaikan perbedaan, jadilah perekat di tengah masyarakat yang majemuk, junjung tinggi Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara,” pesannya.
Selain itu, Rektor meminta para lulusan tidak melupakan almamater yang telah menjadi tempat mereka menimba ilmu dan mengembangkan potensi.
“Jangan lupakan rumah Saudara. UNIDHA adalah almamater, ibu yang mengasuh Saudara dalam ilmu. Pintunya selalu terbuka. Bergabunglah dengan Ikatan Keluarga Alumni, bagilah pengalaman dengan adik-adik tingkat, dan bawalah nama baik almamater di mana pun Saudara berkarya,” ungkapnya.
Suko juga mengingatkan bahwa perjalanan setelah wisuda tidak selalu berjalan mulus. Kegagalan dan penolakan merupakan bagian dari proses yang harus dihadapi dengan ketangguhan.
“Saudara mungkin akan menghadapi kegagalan dan penolakan, itu merupakan hal yang wajar. Yang membedakan orang berhasil bukanlah ketiadaan kegagalan, tapi kesetiaan untuk bangkit dan mencoba lagi. Ingatlah bahwa Saudara telah membuktikan ketangguhan itu dengan sampai pada titik ini,” tambahnya.
Pada wisuda kali ini, UNIDHA Malang meluluskan 896 wisudawan dari enam fakultas, mencakup program sarjana dan pascasarjana. Kampus berharap para alumni mampu berkiprah sesuai bidang keahlian masing-masing, baik melalui pekerjaan profesional maupun dengan menciptakan lapangan kerja.
“Alhamdulillah, wisuda kali ini diikuti 896 wisudawan dari enam fakultas, baik program sarjana maupun pascasarjana. Harapan kami, para alumni bisa berkiprah di bidang masing-masing. Bagi yang belum bekerja, semoga segera mendapatkan pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan lapangan kerja. Sementara yang sudah bekerja, semoga kariernya semakin baik,” kata Suko.
Ia menambahkan, bekal akademik harus berjalan beriringan dengan etika dan kemampuan berkolaborasi. Keberagaman mahasiswa UNIDHA yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia menjadi pengalaman penting dalam membangun sikap toleran.
“Kami juga berharap para lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Mahasiswa kami berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Jawa Timur. Selama kuliah, mereka terbiasa berkolaborasi di tengah keberagaman tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut harus terus dibawa para alumni ketika memasuki dunia profesional maupun terjun langsung ke masyarakat.
“Kebiasaan ini diharapkan terus terbawa ketika mereka terjun ke masyarakat dan dunia kerja, sehingga mampu bekerja sama tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang ekonomi. Dengan begitu, para alumni dapat turut berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang semakin maju dan sejahtera,” imbuhnya.
Di antara 15 wisudawan terbaik, tiga lulusan berhasil meraih IPK sempurna 4,00. Mereka adalah Mela Lavenia dari Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Dwi Purwaningtyas dari Program Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum; serta Nailur Rohmah dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Nailur tidak hanya menonjol dalam capaian akademik, tetapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, pengabdian masyarakat, program Kampus Mengajar, dan kepenulisan. Baginya, disiplin menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban perkuliahan dan pengembangan diri.
“Menurut saya, kunci menjadi mahasiswa berprestasi adalah disiplin, yakni mampu menyeimbangkan tanggung jawab dan kewajiban sebagai mahasiswa. Hal itu juga saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengatur waktu antara tugas kuliah dan aktivitas lainnya,” tutur Nailur.
Ia mengaku tidak hanya mengejar prestasi di ruang kelas, tetapi juga berusaha memperluas pengalaman melalui berbagai aktivitas di luar perkuliahan.
“Saya tidak hanya mengejar prestasi di dalam kelas, tetapi juga aktif di luar kelas melalui berbagai organisasi, komunitas, dan kegiatan kepenulisan. Beberapa di antaranya adalah mengikuti pengabdian masyarakat di Gunungkidul, program Kampus Mengajar, meraih juara dua LO Kreatif kategori unjuk talenta, serta menjadi salah satu dari 13 penulis buku antologi. Dua karya yang saya ikuti bertaraf internasional, yakni Suara Serumpun Puisi Tiga Negara dan Pantun ASEAN,” jelasnya.
Di balik sederet pencapaian tersebut, Nailur menyebut tantangan terbesarnya justru datang dari dirinya sendiri, yakni melawan rasa malas. Ia berusaha membangun kebiasaan menyelesaikan tugas pada hari yang sama ketika tugas tersebut diberikan.
“Tantangan terbesar bagi saya sebenarnya adalah rasa malas. Karena itu, saya berusaha membiasakan diri menyelesaikan tugas pada hari yang sama ketika tugas tersebut diberikan. Dari kebiasaan itu, kedisiplinan perlahan tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian saya,” ungkapnya.
Dukungan dosen juga menjadi faktor penting dalam perjalanan akademiknya. Nailur mengaku mendapatkan ruang untuk bertanya dan mengembangkan kemampuan, termasuk ketika membutuhkan penjelasan di luar jam perkuliahan.
“Dukungan dosen juga sangat berarti. Mereka selalu memfasilitasi mahasiswa, bahkan ketika saya mengajukan pertanyaan di luar jam perkuliahan, dosen tetap memberikan respons yang positif,” katanya.
Bagi Nailur, prestasi tidak cukup hanya dibangun dengan mimpi, tetapi harus disertai kemauan untuk memperjuangkannya secara konsisten. Ia pun mengajak mahasiswa untuk berani mengembangkan potensi dan tidak membatasi diri hanya pada aktivitas akademik.
“Pesan saya, jangan takut untuk bermimpi, karena bermimpi itu mudah, sedangkan yang sulit adalah mengusahakannya. Selama di Universitas Wisnuwardhana Malang, saya merasa selalu mendapat dukungan untuk meraih prestasi, mewujudkan keinginan, dan mencapai cita-cita,” ujarnya.
Ia juga mengajak calon mahasiswa untuk memilih perguruan tinggi yang memberikan ruang bagi pengembangan diri dan pencapaian prestasi.

“Bagi adik-adik yang ingin melanjutkan kuliah, jangan takut bermimpi dan mengembangkan prestasi. Jadikan Universitas Wisnuwardhana Malang sebagai pilihan pertama untuk belajar, berkembang, dan menggali potensi diri,” pungkasnya.
Selain tiga peraih IPK sempurna, 12 wisudawan terbaik lainnya berasal dari berbagai fakultas. Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Ratri Kirana Ayuning Dewanti dari Program Studi Akuntansi meraih IPK 3,96, sedangkan Fachry Yuda Pratama dari Program Studi Manajemen juga mencatatkan IPK 3,96.
Dari Fakultas Psikologi, Wulandari Romadoni dari Program Studi Psikologi meraih IPK 3,84. Fakultas Teknik melahirkan tiga wisudawan terbaik, yakni Sifa Khusnul Khotimah dari Program Studi Teknik Industri dengan IPK 3,80, Galih Nur Firmansyah dari Program Studi Teknik Elektro dengan IPK 3,88, serta Muhammad Bangga Romadhon dari Program Studi Teknik Sipil dengan IPK 3,76.
Berikutnya, dari Fakultas Pertanian, Sophie Agustin dari Program Studi Agribisnis meraih IPK 3,72 dan Nita Rahayu dari Program Studi Agroteknologi meraih IPK 3,87.
Dari Fakultas Hukum, Silvi Afrilia Dwi Anggraini dari Program Studi Ilmu Hukum memperoleh IPK 3,91. Sementara dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Reynaldi Arya Putera Kusuma dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan meraih IPK 3,92, Usna Vegaria dari Program Studi Pendidikan Matematika memperoleh IPK 3,95, serta Muqoddimatus Sholichah dari Program Studi Pendidikan Matematika meraih IPK 3,93.
Deretan prestasi tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam prosesi wisuda UNIDHA Malang tahun ini. Namun, bagi kampus, keberhasilan lulusan tidak berhenti pada angka IPK maupun gelar akademik yang disandang.
UNIDHA Malang berharap seluruh alumni mampu mengimplementasikan ilmu, menjunjung tinggi integritas, menjaga keberagaman, dan terus mengembangkan kompetensi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan bekal pendidikan dan karakter yang telah dibangun selama masa perkuliahan, para lulusan diharapkan mampu mengambil peran dalam dunia profesional, melahirkan inovasi, menciptakan peluang kerja, serta ikut mendorong kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.
Editor : JTV Malang























