PASURUAN - Suasana penuh hikmah menyelimuti kegiatan pengajian Ramadan di Masjid Al-Ikhlas, Dusun Kesemi, Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program "Blusukan Padhange Ati Ramadhan" yang tayang di JTV pada Senin (23/2/2026).
Menghadirkan tausiah dari KH Imam Chambali, pengajian kali ini mengangkat tema menyentuh: “Manusia Tidak Mampu Menghitung Nikmat-Nya Allah SWT.” Acara yang dipandu oleh host Tiara ini dihadiri jemaah muslimah serta masyarakat sekitar yang tampak antusias mengikuti rangkaian acara.
Kegiatan diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh qori muda berprestasi, Ruli Aufan—juara pertama MTQ Jawa Timur tahun 2025 di Jember—serta sari tilawah oleh Nur Kumalasari.
Tafsir Surah An-Nahl Ayat 18
Baca Juga : Cerdas Investasi 2026 Resmi Dimulai, Generasi Muda Ditantang Cuan Di Tengah Badai Global
Dalam tausiahnya, KH Imam Chambali menjelaskan makna dari Surah An-Nahl ayat 18. Ayat tersebut merupakan pengingat tegas bahwa manusia tidak akan pernah mampu menghitung seluruh nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, pasti kamu tidak akan mampu menghitungnya. Begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepada manusia,” ujar KH Imam Chambali.
Beliau mencontohkan nikmat fungsi organ tubuh yang sering dianggap biasa, seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hingga lidah untuk merasakan. “Mata ini kalau dihargai mungkin miliaran rupiah. Namun, jika diberi uang miliaran lalu diminta menukar mata kita, tentu tidak ada yang mau. Itu menunjukkan betapa tak ternilainya nikmat Allah,” jelasnya.
Baca Juga : Halal Bihalal PDIP Jatim 2026, Perkuat Silaturahmi dan Soliditas Kader di Tengah Tantangan Zaman
Nikmat Hidup, Sehat, dan Rezeki
KH Imam Chambali menegaskan bahwa nikmat terbesar yang pertama adalah kehidupan. Kesempatan hidup memungkinkan manusia merasakan berbagai karunia lainnya. Selain itu, kesehatan adalah harta yang sering kali baru disadari keberadaannya saat seseorang jatuh sakit.
Terkait rezeki, beliau mengingatkan pentingnya ikhtiar atau usaha. “Orang bisa salat dengan khusyuk juga butuh rezeki. Kalau perut lapar, tentu sulit khusyuk. Maka jangan meremehkan rezeki; tetaplah bekerja sambil beribadah,” pesannya.
Baca Juga : Menggali Potensi Maritim Jawa Timur untuk Kesejahteraan Nelayan
Beliau juga membagikan amalan membaca Surah Al-Kautsar sebanyak 21 kali setelah salat Subuh sebagai doa kelancaran rezeki, dengan catatan tetap dibarengi dengan kerja keras.
Iman Sebagai Nikmat Tertinggi
Meski waktu, keluarga, dan materi adalah karunia, KH Imam Chambali menekankan bahwa nikmat tertinggi bagi seorang hamba adalah iman dan Islam. “Orang bisa masuk surga bukan karena kaya atau rupa yang menawan, tetapi karena iman. Tanpa iman, bahkan harum surga pun tidak akan tercium,” tuturnya.
Baca Juga : Kebakaran Hebat di Margomulyo Surabaya, Pabrik Selotip Dilalap Api hingga Kerugian Ditaksir Miliaran
Membiasakan Rasa Syukur
Menjawab pertanyaan jemaah tentang perilaku sering mengeluh, Kiai Imam menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kurangnya pembiasaan diri untuk bersyukur.
“Kalau terbiasa mengeluh, hidup akan selalu terasa kurang. Maka biasakan mengucap Alhamdulillah agar hati terbiasa bersyukur,” terangnya. Karena manusia tidak mungkin mampu menghitung nikmat Allah, maka cara terbaik untuk membalasnya adalah dengan memperbanyak rasa syukur dalam keseharian.
Baca Juga : Spesial Event Momentum Silaturahmi Halal Bihalal PDIP Jawa Timur 2026
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Para jemaah berharap agar senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, serta kelapangan hati untuk selalu mensyukuri setiap karunia Allah SWT. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe

















