KEDIRI - Cuaca dingin atau bediding yang melanda Kota Kediri dalam dua pekan terakhir membawa dampak serius bagi petani ikan cupang di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren. Sedikitnya 10 ribu bibit ikan cupang mati akibat turunnya suhu air, sehingga kerugian yang dialami petani ditaksir mencapai Rp 50 juta.
Salah satu petani cupang, Andriyansah Maulana, mengatakan suhu air kolam pada pagi hari saat ini hanya berkisar 21–24 derajat Celsius. Padahal, suhu ideal untuk pertumbuhan dan pembiakan ikan cupang berada di kisaran 27–30 derajat Celsius.
Menurutnya, suhu air yang terlalu rendah tidak langsung memicu penyakit pada ikan. Namun, kondisi tersebut memperlambat metabolisme sehingga ikan menjadi kurang nafsu makan, proses pencernaan terganggu, dan pertumbuhannya tidak optimal. Dampaknya, tingkat kematian bibit meningkat cukup signifikan.
"Selama cuaca dingin ini, banyak bibit yang tidak mampu bertahan sehingga jumlah kematian meningkat dan menyebabkan kerugian yang cukup besar," ujarnya.
Untuk mengurangi potensi kerugian yang lebih besar, Andriyansah memilih mengurangi frekuensi produksi dan melakukan seleksi indukan dengan kualitas terbaik. Ia juga menyesuaikan sistem budidaya, termasuk memilih kolam yang mendapatkan paparan sinar matahari lebih banyak agar suhu air tetap stabil.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha budidaya ikan cupang yang telah dijalankan keluarganya selama bertahun-tahun.
Saat ini, usaha milik Andriyansah masih memiliki sekitar 50 ribu ekor ikan cupang siap panen. Selain itu, terdapat lebih dari 300 ribu bibit hasil breeding periode sebelumnya yang terus dipantau agar mampu bertahan selama cuaca dingin masih berlangsung.
Para petani berharap kondisi cuaca segera kembali normal sehingga tingkat kematian bibit dapat ditekan dan produktivitas sentra budidaya ikan cupang di Kelurahan Ketami kembali pulih.(Beny Kurniawan)
Editor : JTV Kediri

















