NGAWI - Ratusan warga di Kabupaten Ngawi mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau. Sejumlah sumber air warga, terutama sumur, mulai mengering sehingga kebutuhan air sehari-hari harus mengandalkan distribusi dari BPBD dan instansi terkait.
Komisi II DPRD Ngawi melakukan pemantauan langsung proses distribusi air bersih di sejumlah wilayah terdampak. Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan penanganan kekeringan berjalan dengan baik.
Pemantauan dilakukan bersama BPBD di Desa Bangunrejo Lor dan Desa Cantel, Kecamatan Pitu. Ketua Komisi II DPRD Ngawi, Amin Sunarto, mengatakan warga terdampak saat ini masih bergantung pada bantuan air bersih yang didistribusikan pemerintah.
Menurut Amin, kondisi di lapangan menunjukkan cukup banyak warga yang membutuhkan pasokan air. Karena itu, diperlukan penambahan tandon maupun tempat penampungan air agar distribusi dapat dilakukan lebih efektif dan air yang dikirim bisa ditampung untuk memenuhi kebutuhan warga.
Selain penanganan jangka pendek melalui distribusi air, masyarakat juga diminta meningkatkan penghijauan dan penanaman pohon. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga cadangan air tanah dan mengurangi dampak kekeringan pada musim kemarau berikutnya.
Amin Sunarto, Ketua Komisi II DPRD Ngawi, mengatakan penanganan kekeringan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama, terutama karena kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat selama musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Ngawi, hingga kini terdapat sembilan desa yang mengalami krisis air bersih. Penanggulangan sementara dilakukan melalui dropping air bersih oleh BPBD bersama instansi terkait.
Editor : JTV Madiun

















