PALANGKARAYA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan semakin meluas hingga menghanguskan sedikitnya 11.202 hektare kawasan hutan dan gambut per Jumat (23/10/2026). Dari total 18.421 hektare lahan terbakar di wilayah prioritas nasional, porsi terbesar terkonsentrasi di daratan Kalimantan dengan Provinsi Kalimantan Tengah menjadi episentrum titik api tertinggi. Di tengah kucuran anggaran penanggulangan bencana yang menembus triliunan rupiah dan operasi teknologi modifikasi cuaca dari udara, krisis ini menyisakan paradoks getir di tingkat tapak: warga berjuang memadamkan api secara manual di tengah kekeringan sumur, habitat satwa lindung terdesak, hingga munculnya kecurigaan atas terbaginya lahan gambut yang hangus menjadi petak-petak pembukaan kebun.
Berdasarkan data pantauan satelit pada sistem SiPongi Kementerian Kehutanan pada Jumat pagi, kepulan asap pekat tidak hanya mempersempit jarak pandang jalur transportasi air, tetapi juga telah mengorbankan ratusan ribu warga yang terserang penyakit pernapasan.
Guna menyajikan rincian dinamika bencana di lapangan secara menyeluruh, berikut adalah ulasan enam fakta krusial terkait situasi terkini karhutla di Kalimantan :
1. Kalimantan Tengah Jadi Episentrum Titik Panas Terbesar

Satelit pemantau mendeteksi lebih dari 1.000 titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah, menjadikannya provinsi dengan tingkat kebakaran paling parah di Indonesia. Dari total 11.202 hektare hutan yang dilalap api di Kalimantan, Kalimantan Tengah menyumbang luasan terbesar mencapai 7.938 hektare, disusul Kalimantan Selatan seluas 1.974 hektare, Kalimantan Timur seluas 1.393 hektare, dan Kalimantan Barat seluas 1.290 hektare. Kepulan kabut asap tebal akibat kebakaran lahan gambut ini bahkan telah memangkas jarak pandang pelayaran di jalur Sungai Mentaya, Sampit, sehingga memaksa para nakhoda kapal meningkatkan kewaspadaan demi menghindari tabrakan di perairan.
2. Paradoks Anggaran Triliunan Rupiah dan Perjuangan Manual Warga Desa
Penanganan kebakaran di tingkat pusat mencatatkan pengerahan sumber daya berteknologi tinggi dengan anggaran bencana nasional yang dilaporkan mencapai Rp1,23 triliun. BNPB telah menjalankan 13 sorti penerbangan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan teknologi penyemaian es kering (dry ice) dan garam natrium klorida untuk memicu hujan buatan serta mengurai asap. Namun, intervensi udara tersebut belum menyentuh kebutuhan mendasar warga di garis depan kebakaran, seperti yang dialami warga Desa Tanah Putih, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Warga desa setempat terpaksa memadamkan lidah api secara mandiri dengan alat seadanya di tengah sumur-sumur yang mengering sejak Juni hingga Oktober 2026, hingga mereka harus mengeluarkan biaya pribadi untuk membeli air bersih demi menahan api agar tidak menjalar ke permukiman.
3. Sekat Bakar Jebol dan Ancaman Asap Tebal di Taman Nasional Tanjung Puting
Kebakaran lahan turut menghantam kawasan konservasi berkelas dunia, yakni Taman Nasional (TN) Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Pengamatan citra satelit NASA memperlihatkan kepulan asap tebal membubung tinggi dari area penyangga maupun zona inti taman nasional, dengan perkiraan wilayah terdampak di lanskap sekitarnya menembus lebih dari 130 ribu hektare. Di Resort Pesalat, para petugas lapangan dan relawan kewalahan menghadapi kobaran api akibat sekat bakar manual yang dibangun tidak mampu menahan laju api yang merambat cepat di atas lahan gambut kering, diperparah oleh ketiadaan pasokan air di saluran kanal serta dorongan angin kencang.
4. Temuan Anomali Lahan Gambut Hangus yang Berpola Kapling Kelapa Sawit

Di balik musibah kebakaran yang meluas, beredar rekaman video pemantauan udara pada Jumat (23/10/2026) yang memperlihatkan kejanggalan pada lahan bekas terbakar. Hamparan lahan gambut yang baru saja hangus terlihat telah terbagi rapi menjadi petak-petak berukuran sekitar 0,5 hektare dengan pola simetris yang menyerupai persiapan perkebunan kelapa sawit baru. Temuan visual tersebut memperkuat dugaan masyarakat bahwa pembakaran lahan sengaja dilakukan sebagai cara murah untuk membuka lahan perkebunan. Menanggapi kejanggalan tersebut, aparat kepolisian daerah langsung melacak titik koordinat video untuk memburu pihak yang bertanggung jawab, sementara Menteri Kehutanan sebelumnya telah menjatuhkan sanksi pencabutan izin terhadap lima perusahaan di Kalimantan Timur yang konsesinya seluas 1.393 hektare terbukti terbakar hebat.
5. Satwa Dilindungi Terkepung Api dan Evakuasi Puluhan Orang Utan
Kerusakan tutupan hutan secara drastis mengancam kelangsungan hidup satwa endemik Kalimantan, khususnya orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Pada Jumat (23/10/2026) dini hari, tim gabungan kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) berhasil menyelamatkan sepasang induk dan anak orang utan yang terjebak di tengah kepungan asap di Kalimantan Tengah. Sehari sebelumnya di Kalimantan Barat, tim penyelamat mengevakuasi sebanyak 51 individu orang utan, di mana sekitar 30 individu di antaranya ditemukan dalam kondisi menderita luka fisik serta kekurangan gizi parah di area bernilai konservasi tinggi yang berbatasan langsung dengan konsesi kelapa sawit.
6. Lonjakan Pasien ISPA dan Penyediaan 169 Titik Layanan Rumah Oksigen
Kabut asap pekat yang menyelimuti permukiman kini telah memicu krisis kesehatan masyarakat yang serius. Dampak partikel polusi udara berbahaya dari kebakaran hutan menyebabkan lebih dari 333 ribu warga di Indonesia menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan angka kasus di Kalimantan Timur saja sudah menembus lebih dari 43 ribu penderita. Untuk menekan angka keparahan korban, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama BNPB mengoperasikan 169 titik Rumah Oksigen di puskesmas, rumah sakit umum daerah, posko kebencanaan, serta kantor pemerintahan. Fasilitas darurat ini menyediakan tabung oksigen, alat bantu pernapasan, dan pemeriksaan medis dasar secara cuma-cuma, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi, warga lanjut usia, dan ibu hamil.
Penanganan darurat bencana karhutla di daratan Kalimantan memerlukan sinkronisasi nyata antara operasi udara di tingkat pusat dan pemenuhan sarana air bersih serta peralatan pompa bagi relawan darat di tingkat desa. Penegakan hukum yang tegas terhadap praktik pembakaran lahan berkedok pembersihan kebun menjadi langkah mutlak agar tragedi lingkungan ini tidak terus berulang setiap tahun.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat yang terpapar polusi asap pekat untuk senantiasa mengenakan masker penyaring udara saat beraktivitas di luar rumah dan segera memanfaatkan posko Rumah Oksigen gratis terdekat apabila mengalami gangguan pernapasan. Penyelamatan ekosistem hutan dan pemulihan kesehatan warga kini menjadi perlombaan waktu yang menuntut kerja sama seluruh elemen bangsa.
Penulis : Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe























