KOTA MALANG - Portaljtv - Sebanyak 65 siswa SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang menjalani uji publik (imtihan) tahfidz Juz 30, 29, dan 28 Metode Ummi angkatan ke-4 dalam acara Khotmil Qur'an yang berlangsung di Gedung Aula Kampus UMM 2, Jalan Bendungan Sutami, Kota Malang, Sabtu (30/5/2026). Kegiatan itu dirangkaikan dengan tasyakuran kelulusan siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026.

Para siswa yang terdiri atas kelas VII, VIII, dan IX tersebut diuji satu per satu di atas panggung di hadapan orang tua, guru, serta pejabat pendidikan. Sebelum dinyatakan layak mengikuti imtihan, mereka terlebih dahulu lulus ujian Munakosha yang menguji kelancaran dan ketepatan bacaan Al-Qur'an.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Malang, Yanur Setyaningrum, M.Pd., menyatakan bahwa acara tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban sekolah kepada wali murid.

"Khotmil Qur'an dan imtihan ini adalah laporan langsung bahwa anak-anak telah melewati proses panjang. Mereka dilatih dari jilid Ummi, kemudian naik ke jenjang Al-Qur'an, lalu diberikan materi bacaan asing dalam Al-Qur'an, dan terus didorong menambah hafalan hingga mencapai Juz 30, 29, dan 28," ujar Yanur.
Ia menambahkan, proses pembelajaran tidak berhenti saat liburan. "Anak-anak tetap murojaah secara virtual. Di sekolah, kami menyisihkan satu jam setiap hari khusus untuk kegiatan mengaji," tuturnya.
Yanur juga mengumumkan rencana sekolah membuka program kelas internasional dan kelas inklusi pada tahun ajaran baru. "Lima siswa kami telah melakukan kunjungan internasional ke Malaysia dan Singapura sebagai program awal," ungkapnya.
Pengawas Dinas Pendidikan Kota Malang, Siswanto, S.Pd., M.T., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan acara tersebut.

"Atas nama Dinas Pendidikan dan Pemerintah Rakyat Kota Malang, kami ucapkan terima kasih. Sekolah telah menyelenggarakan acara ini dengan sukses dan khidmat, termasuk memecahkan rekor," ujar Siswanto.
Ia menjelaskan bahwa mutu pendidikan dinilai dari enam indikator rapor pendidikan, dengan tiga indikator utama yaitu literasi, numerasi, dan karakter. "Untuk kualitas pembelajaran, program Khotmil Qur'an, imtihan, tartil, dan tahfidz Juz 28-30 adalah program plus yang tidak banyak dimiliki sekolah lain," katanya.
Siswanto juga mengimbau sekolah membuat rencana aksi (action plan) agar program unggulan tersebut tercatat dalam rapor pendidikan nasional. "Yang terbaca di provinsi dan pusat hanya perencanaan berbasis data. Nanti buat tim pemikir," pesannya.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Klojen, Hafidz, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan anak masuk sekolah favorit yang tidak sesuai dengan potensi.

"Carilah pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan anak. Jangan rebut sekolah favorit yang di dalamnya tidak ada pengembangan potensi anak. Sekolah favorit hanyalah kesenangan sesaat," tegas Hafidz.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara potensi dan akhlak. "Mau jadi politikus, silakan politikus yang berakhlak. Mau jadi penguasa, silakan penguasa yang berakhlak. Semuanya berlandaskan akhlak," ujarnya.
Mengenai kelestarian Al-Qur'an, Hafidz mengutip firman Allah dalam surah Al-Hijr ayat 9. "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang akan menjaga kelestariannya. Ini semua bukan semata-mata karena sekolah, tetapi kerja sama orang tua. Keberhasilan anak adalah kolaborasi," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta terbaik, Najwa Uliatussalwa, mengaku lebih dominan menghafal Al-Qur'an di rumah daripada di sekolah.
"Saya menghafal sendiri di rumah, baru di sekolah saya murojaah agar saat disetorkan lancar. Menurut saya, metode ini lebih efektif. Tentu butuh manajemen waktu yang baik," ujar Najwa.
Ia menargetkan mampu menghafal hingga 30 juz. "Insya Allah target saya sampai 30 juz," ucapnya.
Setelah lulus dari SMP, Najwa berencana melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Malang. Ia berkomitmen tetap menjalankan murojaah agar hafalannya tidak hilang. "Saya tidak akan berhenti di sini," pungkasnya.(Ali)
Editor : JTV Malang



















