Menu
Pencarian


"Ganti Kertas dengan Kode, Aplikasi CKG Malang Buktikan Digitalisasi Kesehatan Sekolah Tanpa Biaya"

JTV Malang - Jumat, 17 Juli 2026 18:53
"Ganti Kertas dengan Kode, Aplikasi CKG Malang Buktikan Digitalisasi Kesehatan Sekolah Tanpa Biaya"
CKG Malang makin canggih! Aplikasi buatan Robby & Ranisa sukses diduplikasi semua puskesmas, hasil pemeriksaan langsung terintegrasi dengan sekolah.

KOTA MALANG - Portaljtv - Pelaksanaan program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) di lingkungan sekolah seringkali menghadapi kendala klasik: pencatatan manual. Di Kota Malang, tumpukan kertas formulir pemeriksaan kerap menyulitkan tenaga kesehatan dalam merekap data, menyebabkan keterlambatan intervensi, serta berisiko kehilangan dokumen penting. Kondisi inilah yang mendorong seorang tenaga medis di Puskesmas Kendalkerep untuk berpikir di luar kebiasaan dan menciptakan solusi digital yang revolusioner.

Berawal dari kegelisahan profesionalnya, Robby Firman Hidayat, A. Md. A. K, seorang analis kesehatan di Puskesmas Kendalkerep, mulai merancang sebuah sistem pencatatan elektronik pada Juli 2025. Ia menyadari bahwa waktu yang dihabiskan untuk mengentri data manual dan menelusuri berkas kertas dapat dialokasikan untuk pelayanan langsung kepada siswa. Visinya adalah menciptakan alat yang tidak hanya akurat, tetapi juga bisa diakses oleh semua pihak terkait secara real-time.

Ide Robby kemudian diwujudkan secara teknis bersama rekannya, Ranisa Wijayanti, S. KM, yang bertanggung jawab mengembangkan dan mengimplementasikan aplikasi tersebut. Mereka memilih platform Google Script sebagai basis pengembangan karena dinilai fleksibel dan mampu berintegrasi dengan layanan Google Workspace yang sudah umum digunakan. Keputusan ini terbukti strategis karena aplikasi yang dihasilkan sangat ringan, tidak memerlukan server khusus, dan minim gangguan teknis selama pengoperasian di lapangan.

Baca Juga :   KOMUNIKA 2026: Mengguncang Cakrawala Komunikasi di Era Kecerdasan Buatan

Aplikasi ini mulai diuji coba di seluruh sekolah binaan Puskesmas Kendalkerep. Sasaran awal mencakup 31 sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK yang tersebar di empat kelurahan, yaitu Kelurahan Bunulrejo, Jodipan, Polehan, dan Kesatrian. Hingga saat ini, sudah lebih dari 7.800 siswa yang datanya berhasil dihimpun dalam satu database terpusat, menjadikannya salah satu bank data kesehatan pelajar terbesar di kawasan timur Kota Malang.

Salah satu aspek yang paling mengesankan dari inovasi ini adalah konsep zero cost atau tanpa biaya. Dengan memanfaatkan Google Script, Robby dan tim tidak mengeluarkan anggaran untuk lisensi, perangkat keras baru, ataupun biaya pemeliharaan server. Hal ini sangat berbeda dengan aplikasi berbayar yang kerap membebani anggaran puskesmas. Efisiensi biaya ini membuat program CKG tetap berjalan optimal tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

Baca Juga :   800 Wisudawan UIN Malang Dikukuhkan di Tengah Gelombang Disrupsi Digital, Rektor Tekankan Skill AI dan Akhlak

Saat pelaksanaan pemeriksaan di sekolah, tenaga kesehatan (nakes) cukup mengakses aplikasi melalui ponsel atau laptop. Data tinggi badan, berat badan, tekanan darah, hingga hasil skrining penglihatan dan pendengaran langsung diinputkan secara digital. Guru pendamping pun dapat melihat hasil sementara, sehingga komunikasi antara puskesmas dan pihak sekolah berlangsung lebih cair dan transparan dibandingkan saat masih menggunakan kertas yang baru dibagikan beberapa hari kemudian.

Keunggulan lain dari aplikasi ini adalah kemampuannya dalam mempercepat proses koordinasi tindak lanjut. Begitu hasil pemeriksaan keluar, guru wali kelas atau UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dapat langsung mengetahui siswa mana yang memerlukan perhatian khusus. Jika ditemukan indikasi gangguan kesehatan serius, rekomendasi rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut dapat segera diberikan tanpa menunggu rekap data mingguan.

Baca Juga :   Kepala DPUPRPKP Bantah Keras Kabar Penggeledahan Kantor oleh Kejari: "Hoax Banget!"

Bagi siswa yang terdeteksi bermasalah kesehatan, seperti gizi kurang, skoliosis ringan, atau gangguan refraksi mata, tindakan penanganan bisa dilakukan dengan cepat. Selain rujukan, pihak sekolah dan puskesmas juga dapat menyusun program intervensi di lingkungan sekolah, seperti pemberian makanan tambahan atau pemanggilan orang tua. Respon cepat ini sangat krusial untuk mencegah masalah kesehatan anak berkembang menjadi lebih serius di kemudian hari.

Melihat efektivitas dan kemudahan penggunaannya, Dinas Kesehatan Kota Malang akhirnya mengambil langkah strategis. Pada tahun 2026, aplikasi ini resmi diduplikasi dan diimplementasikan di seluruh puskesmas yang ada di Kota Malang. Kebijakan ini menandai babak baru dalam digitalisasi pelayanan kesehatan sekolah di kota tersebut, mengingat sebelumnya setiap puskesmas memiliki metode pencatatan yang berbeda-beda.

Baca Juga :   FK UNISMA Kembali Gelar Kompetisi Video Kreatif Kesehatan, Angkat Isu Kesehatan Mental untuk Generasi Muda

Kesuksesan aplikasi ini membuktikan bahwa inovasi di bidang kesehatan tidak selalu membutuhkan anggaran besar, melainkan kreativitas dan kemauan untuk berubah. Robby dan Ranisa berharap sistem serupa dapat diadopsi oleh kabupaten/kota lain di Jawa Timur, bahkan menjadi model nasional untuk mendukung program Cek Kesehatan Gratis. Dengan keberlanjutan pengembangan, mereka optimis bahwa data kesehatan anak Indonesia akan semakin terintegrasi dan intervensi kesehatan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.(Ali)

Editor : JTV Malang






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.