TRENGGALEK - Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, menyimpan destinasi wisata unik yang mengusung konsep kuliner dan alam, bernama Wisata Slow. Icon utama tempat ini adalah sebuah dam peninggalan Belanda yang sarat sejarah dan fungsi.
Dam yang diresmikan pada tahun 1941 ini dibangun untuk menangani masalah banjir dan mengairi sekitar 2.900 hektare lahan sawah masyarakat. Saat ini, selain menjadi spot foto yang instagenik, struktur tua ini tetap memberikan manfaat besar bagi pertanian warga.
Wisata Slow yang berdiri sejak 2019 sempat viral dan menjadi rujukan wisata desa. Namun, geliatnya sempat meredup akibat pandemi Covid-19. Kini, Pemerintah Desa Widoro bersama UPT Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Perwakilan Trenggalek berkolaborasi untuk membangkitkan kembali gairah kunjungan.
"Kami akan bekerja sama mengembangkan Wisata Slow. Salah satunya dengan memanfaatkan area di sekitar dam peninggalan Belanda ini untuk pembuatan wahana air dan permainan anak," ujar Samsul Maarif, Sekretaris Desa Widoro.
Sumaryono, Koordinator Perwakilan Trenggalek UPT PSDA WS Brantas Kediri, menambahkan bahwa kolaborasi ini bertujuan ganda. "Kerja sama ini tidak hanya untuk meningkatkan kembali kunjungan ke Wisata Slow, tetapi juga sekaligus mampu melaksanakan upaya pelestarian sungai," jelasnya.
Wisata Slow juga dikenal dengan event tahunannya, yaitu Festival Air. Festival ini berisi beragam aktivitas, mulai dari permainan tradisional seperti balap getek (rakit bambu), hingga kegiatan edukasi pelestarian sungai.
"Melalui event ini, kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sungai diharapkan bisa meningkat," pungkas Samsul Maarif. (Hammam Defa)
Editor : JTV Kediri



















