Menu
Pencarian

Warga Osing Kemiren Banyuwangi Gelar Tradisi Mepe Kasur

JTV Banyuwangi - Kamis, 21 Mei 2026 23:40
Warga Osing Kemiren Banyuwangi Gelar Tradisi Mepe Kasur
Kasur harus dimasukkan sebelum matahari terbenam untuk menjaga khasiat ritual. Bariyah, 77, menyatakan tradisi ini menjauhkan dari bala.

Masyarakat osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi kembali menggelar tradisi mepe kasur, Kamis (21 Mei 2026). Tradisi turun-temurun itu dilakukan dengan menjemur kasur merah hitam secara serentak di depan rumah.

Kasur kapuk itu dikelurkan dari rumah sejak pukul 09.00 WIB untuk dijemur di bawah sinar matahari. Pemandangan deretan kasur merah hitam di sepanjang jalan desa menjadi ciri khas tradisi tahunan tersebut.

Tidak hanya dijemur, kasur juga dipukul menggunakan rotan atau lidi untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel.

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi mengatakan, tradisi Mepe Kasur merupakan bagian dari rangkaian ritual bersih desa sebelum pelaksanaan Tumpeng Sewu. Tradisi itu dimaknai sebagai simbol membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan.

Kasur dipercaya sebagai simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk sekaligus bentuk doa agar warga dijauhkan dari penyakit dan marabahaya.

"Mepe kasur ini bagian dari rangkaian Tumpeng Sewu. Filosofinya membersihkan tempat istirahat sekaligus membersihkan diri sebelum pelaksanaan ritual adat," kata Suhaimi.

Tradisi mepe kasur juga lekat dengan unsur filosofis. Warna merah pada kasur melambangkan keibuan, sedangkan warna hitam bermakna kelanggengan.

Dalam tradisi masyarakat Osing, orang tua biasanya memberikan kasur merah hitam kepada anak perempuan yang menikah sebagai simbol doa agar rumah tangganya harmonis dan langgeng.

Menurut Suhaimi, ada aturan yang harus dipatuhi dalam tradisi tersebut. Kasur harus sudah dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam. Jika dibiarkan hingga sore atau malam hari, masyarakat percaya khasiat dan makna ritualnya akan hilang.

"Kalau sampai sore dipercaya khasiatnya menurun, apalagi kalau kemalaman," ujarnya.

Sementara itu, warga Kemiren Bariyah, 77, mengatakan tradisi Mepe Kasur dipercaya sebagai ritual tolak bala sekaligus menjaga kualitas kasur agar tetap empuk dan nyaman digunakan. Tradisi tersebut telah dijalankan masyarakat Osing secara turun-temurun sejak dirinya masih kecil.

"Dari saya kecil sudah ada tradisi ini. Ini diyakini untuk menjauhkan dari bala," kata Bariyah.

Handoko Khusumo

Editor : JTV Banyuwangi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.