PACITAN - Deru mesin penyedot pasir yang biasanya terdengar dari aliran Sungai Grindulu di lingkungan Kauman, Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan, kini mendadak hilang. Sudah hampir sepekan terakhir, aktivitas penambangan pasir di kawasan tersebut berhenti total setelah adanya penutupan dari aparat kepolisian.
Di tepian sungai, sebagian warga hanya tampak mengumpulkan sisa-sisa pasir yang masih tersisa di daratan. Tak ada lagi truk keluar masuk. Tak ada lagi aktivitas bongkar muat yang selama puluhan tahun menjadi denyut ekonomi warga setempat.
Penutupan aktivitas tambang pasir dilakukan Polres Pacitan setelah muncul persoalan dampak lingkungan dan kerusakan infrastruktur di Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan. Aktivitas penambangan menggunakan mesin yang pasirnya langsung dimuat ke truk menyebabkan air bercampur pasir menetes di sepanjang jalan hingga memicu kerusakan cukup parah.
Namun dampak kebijakan itu kini turut dirasakan para penambang di wilayah lain, termasuk Desa Arjowinangun. Meseri, salah satu penambang pasir di Desa Arjowinangun, menuturkan sistem penambangan di wilayahnya berbeda. Pasir yang diambil dari sungai tidak langsung dijual, melainkan ditimbun terlebih dahulu hingga mengering.
"Kalau di sini sistemnya timbun. Pasir disedot terus ditaruh dulu satu hari sampai airnya turun. Besok kalau ada yang beli baru dijual. Kadang malah sampai tiga hari baru laku," ujarnya Sabtu, (23/05) pagi.
Cara tersebut, menurutnya, selama ini dilakukan agar pasir yang dijual dalam kondisi lebih kering dan tidak menyebabkan air mengalir ke jalan. Kini, setelah tambang berhenti beroperasi, penghasilan warga ikut terhenti. Aktivitas yang selama bertahun-tahun menjadi sumber nafkah utama mendadak hilang.
Janap Suprapto, penambang lainnya, mengatakan ada sekitar 25 kepala keluarga di wilayah Desa Arjowinangun dan Sirnoboyo yang menggantungkan hidup dari tambang pasir. Sebagian besar sudah bekerja di sektor itu hampir dua dekade terakhir.
"Kurang lebih sudah 20 tahun kami hidup dari sini. Sekarang ditutup semua, termasuk yang manual juga berhenti. Banyak yang akhirnya menganggur," kata Janap.
Menurutnya, warga merasa ikut terdampak persoalan yang terjadi di lokasi lain. Padahal sistem penambangan yang dilakukan di wilayah mereka dinilai berbeda.
"Kami merasa kena imbas persoalan dari tempat lain. Yang manual pun ikut ditutup," tambahnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, bantuan sementara memang sudah diterima warga. Sejak aktivitas tambang dihentikan, warga mengaku memperoleh bantuan beras sebanyak lima kilogram dari pihak kepolisian.Namun bagi sebagian warga, bantuan itu belum cukup menjawab persoalan utama, yakni keberlanjutan mata pencaharian mereka.
"Kemarin sudah dapat lima kilogram, tapi tolong lah yang hilang itu kan mata pencaharian kami, " jelasnya.
Warga pun berharap ada kebijakan yang mampu menjadi jalan tengah, antara menjaga lingkungan dan memastikan roda ekonomi masyarakat kecil tetap berputar. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















