SURABAYA - Beberapa pekan terakhir, Kota Surabaya dan sejumlah wilayah sekitarnya masih kerap diguyur hujan. Padahal, berdasarkan pergantian musim, Jawa Timur telah memasuki periode kemarau. Kondisi ini membuat banyak warga bertanya-tanya mengapa hujan masih turun meski musim hujan telah berakhir.
Berdasarkan prediksi BMKG, mayoritas wilayah Jawa Timur sebenarnya telah memasuki musim kemarau sejak April hingga Mei 2026. Bahkan sekitar 93 persen wilayah musim di Jawa Timur diperkirakan telah mengalami awal musim kemarau pada periode tersebut. Surabaya sendiri termasuk daerah yang diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau ditandai dengan berkurangnya curah hujan, bukan hilangnya hujan sama sekali. Karena itu, hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah meskipun telah memasuki musim kemarau.
Khusus di Surabaya, terdapat beberapa faktor cuaca yang memicu terjadinya hujan. Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya, mengatakan hujan yang terjadi di Surabaya, Sidoarjo, dan wilayah sekitarnya dipengaruhi oleh adanya gangguan atmosfer berupa gelombang Rossby yang melintasi Jawa Timur.
Baca Juga : Gubernur Khofifah Ajak Semua Pihak Siaga Hadapi Kemarau Serta Kebakaran Hutan dan Lahan
"Beberapa wilayah terjadi hujan pada hari ini terutama di Sidoarjo dan Surabaya adalah saat ini sedang terjadi gangguan atmosfer akibat adanya gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur," kata Andrie, dikutip dari IDN Times Jatim, Minggu (14/6/2026).
Gelombang Rossby tersebut berperan dalam pembentukan awan konvektif dalam skala besar. Fenomena ini membantu mengumpulkan uap air dalam jumlah banyak sehingga memicu pertumbuhan awan cumulonimbus yang berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih mudah meski Jawa Timur sedang memasuki musim kemarau.
Baca Juga : Pemprov Jatim-BNPB Antisipasi Musim Kemarau dan Petakan Risiko Kekeringan
Selain dipengaruhi gelombang Rossby, hujan yang terjadi di tengah musim kemarau juga dipicu oleh suhu muka laut yang relatif hangat di wilayah Selat Madura dan sekitarnya. Kondisi tersebut meningkatkan proses penguapan yang kemudian mendukung pembentukan awan hujan.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat hujan masih berpotensi terjadi di Surabaya dan sejumlah wilayah Jawa Timur hingga 15 Juni 2026.
Fenomena ini dapat memengaruhi aktivitas masyarakat karena kondisi cuaca menjadi lebih sulit diprediksi. Warga yang beraktivitas di luar ruangan perlu lebih waspada dan disarankan tetap membawa payung atau jas hujan sebagai antisipasi.
Baca Juga : BMKG Prakirakan Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Diprediksi Agustus
Para pelaku usaha yang mengandalkan aktivitas luar ruangan juga perlu menyesuaikan kegiatannya dengan perkembangan cuaca.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi yang dikeluarkan BMKG serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan yang masih dapat terjadi meski telah memasuki musim kemarau.(Luluk Listiani)
Editor : Iwan Iwe



















