PACITAN - Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan melakukan studi tiru ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 23 Pacitan, Kamis siang. Studi tiru ini melibatkan elemen penting pendidikan di Pacitan. Mulai dari PGRI, MKKS, Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan hingga Camat di 12 kecamatan. Pun, jajaran Dinas Sosial Kabupaten Pacitan.
Rombongan diajak berkeliling melihat langsung berbagai fasilitas dan aktivitas siswa, mulai dari asrama, bangunan sekolah, hingga proses pembentukan disiplin siswa-siswi di lingkungan sekolah rakyat tersebut. Bahkan, para peserta studi tiru turut merasakan langsung suasana makan siang bersama siswa yang berlangsung tertib dan penuh kedisiplinan.
Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna mengatakan kunjungan tersebut difokuskan untuk mempelajari pola pembentukan karakter yang diterapkan di SRMA 23 Pacitan. “Studi tiru ini kami melihat bagaimana pembentukan karakter dilakukan. Kami mencermati pendidikan karakter anak di SRMA 23 Pacitan ini berjalan dengan baik,” kata Khemal ditulis Jum'at (08/05) siang.
Baca Juga : Studi Tiru ke SRMA 23 Pacitan, Dindik Soroti Pola Pendidikan Karakter dan Keterlibatan Orang Tua
Menurutnya, sejumlah poin dari sistem pendidikan di sekolah rakyat itu nantinya akan dicoba diterapkan di sekolah negeri di Pacitan, tentu dengan penyesuaian kondisi masing-masing sekolah. “Ke depan ada beberapa poin yang tentunya akan kami implementasikan di sekolah negeri, namun tetap disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada,” lanjutnya.
Khemal menilai salah satu hal paling menarik dari SRMA 23 Pacitan adalah adanya kesamaan persepsi antara pihak sekolah dengan wali asuh maupun orang tua dalam mendidik anak. “Yang paling menarik itu pembentukan karakter di sini didukung penyamaan persepsi antara wali asuh dengan guru. Kalau di sekolah umum, berarti antara pendidikan di rumah dan di sekolah harus saling berkesinambungan,” ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dukungan dan keterlibatan keluarga di rumah. Karena itu, Dinas Pendidikan mendorong adanya peningkatan komunikasi antara sekolah dan orang tua siswa. “Contohnya tadi saat makan bersama sambil berdiskusi, ternyata intensitas pertemuan antara sekolah dengan orang tua masih sangat kurang. Itu baru intensitas, belum kualitasnya,” jelas Khemal.
Baca Juga : Kedapatan Mencuri Porang, Dua Bocah di Pacitan Dicukur Gundul
Pihaknya optimistis pola pendidikan karakter seperti di SRMA 23 Pacitan bisa diterapkan di sekolah umum, meski membutuhkan proses dan waktu. “Kami mendorong sekolah lebih sering membangun komunikasi dengan orang tua. Orang tua juga harus lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan sekolah karena pendidikan karakter itu harus berjalan bersama,” pungkasnya. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















