KOTA MALANG - Kamitetep atau Phereoeca uterella merupakan jenis serangga dari ordo Lepidoptera yang cukup sering dijumpai di lingkungan rumah. Serangga ini lebih banyak terlihat saat berada pada fase larva, yakni ketika ia hidup di dalam rumah kecil atau “case” menyerupai biji labu yang dibawanya ke mana-mana.
Secara historis, spesies ini pertama kali dicatat oleh Lord Walsingham pada tahun 1897 di Kepulauan Virgin. Dalam perkembangannya, serangga ini sempat mengalami perubahan penamaan hingga akhirnya dikenal sebagai Phereoeca uterella pada tahun 1956, dengan ciri khas rumah larva yang berbentuk pipih dan tersusun dari material alami.

Penyebaran kamitetep diduga kuat berkaitan dengan aktivitas perdagangan antarwilayah dan internasional. Larvanya dapat menempel pada kayu atau barang lain, lalu menyebar ke lokasi baru ketika telah dewasa dan mampu terbang. Di dalam rumah, larva dan pupa kamitetep kerap ditemukan di sudut-sudut dinding, kamar mandi, kamar tidur, maupun area yang memiliki sarang laba-laba. Lingkungan lembap menjadi kondisi ideal bagi serangga ini untuk berkembang.
Baca Juga : Pelatih Madura United Waspadai Kebangkitan Persita
Rumah atau cangkang larva kamitetep akan tampak lebih gelap saat terkena air dan kembali cerah ketika kering, menyerupai tekstur kulit kayu. Hal inilah yang membuatnya sering luput dari perhatian penghuni rumah.
Sebagian orang mengeluhkan gangguan kulit yang dikaitkan dengan keberadaan kamitetep, seperti rasa gatal, kemerahan, bengkak, hingga iritasi ringan. Untuk meredakan keluhan tersebut, kompres air hangat dapat digunakan saat terasa nyeri, sementara air dingin membantu mengurangi rasa gatal. Pencegahan terbaik adalah menjaga kebersihan rumah, terutama area tersembunyi seperti bawah tempat tidur, karpet, dan sudut ruangan.
Meski menimbulkan rasa tidak nyaman, pada dasarnya kamitetep tidak tergolong serangga berbahaya bagi manusia. Gangguan pada kulit umumnya bukan disebabkan oleh gigitan, melainkan oleh bulu halus pada larva yang dapat memicu iritasi. Bulu ini merupakan mekanisme pertahanan alami yang dimiliki beberapa jenis ulat, dan dapat menimbulkan reaksi sementara seperti gatal dan kemerahan pada kulit. (Prakerin-Ahmad)
Editor : JTV Malang



















