SURABAYA - Duduk berjam-jam di depan laptop sering kali menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Mulai dari pekerja kantoran yang bekerja sejak pagi hingga sore, mahasiswa yang mengerjakan tugas, hingga anak muda yang menghabiskan waktu bermain gim daring, banyak aktivitas kini dilakukan dalam posisi duduk.
Meski terlihat sepele, kebiasaan ini ternyata dapat membawa berbagai dampak bagi kesehatan apabila dilakukan terlalu lama tanpa diselingi aktivitas fisik.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Erta Priadi Wirawijaya, Sp.JP, FIHA, dalam video yang diunggah melalui akun pribadinya menjelaskan bahwa duduk terlalu lama, yakni lebih dari enam hingga delapan jam per hari, dapat memperlambat metabolisme tubuh dan menurunkan sirkulasi darah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan metabolisme hingga penyakit kardiovaskular.
Risiko tersebut tidak bisa dianggap remeh. Kemenkes menyebutkan bahwa seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik memiliki risiko kematian 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin bergerak dan beraktivitas.
Salah satu dampak yang paling sering dirasakan akibat duduk terlalu lama adalah munculnya keluhan pada otot dan persendian. Banyak orang menganggap pegal di leher, bahu, atau punggung sebagai hal yang wajar setelah bekerja atau belajar seharian. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh terlalu lama berada dalam posisi yang sama.
Tekanan berlebih pada tulang belakang dan otot penyangga tubuh dapat menyebabkan ketegangan yang berujung pada nyeri punggung bawah maupun nyeri di area leher. Kondisi ini dapat semakin memburuk apabila posisi duduk tidak ergonomis, seperti membungkuk saat menatap layar laptop atau terlalu lama menunduk saat menggunakan gawai.
Selain menimbulkan rasa pegal, duduk dalam waktu lama juga dapat menyebabkan tubuh terasa lebih cepat lelah. Kurangnya pergerakan membuat aliran darah tidak berjalan optimal sehingga pasokan oksigen ke otot dan jaringan tubuh menjadi berkurang. Akibatnya, seseorang dapat merasa kurang bertenaga meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.
Tidak sedikit pula yang mengalami kesemutan pada kaki setelah duduk terlalu lama. Hal ini terjadi karena adanya tekanan pada pembuluh darah atau saraf tertentu sehingga sirkulasi darah menjadi kurang lancar. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu kenyamanan saat beraktivitas.
Selain itu, kebiasaan duduk dalam posisi yang tidak tepat dapat menyebabkan postur tubuh memburuk. Posisi duduk membungkuk atau miring yang dilakukan secara berulang dapat mengubah kelengkungan alami tulang belakang dan meningkatkan risiko gangguan postur dalam jangka panjang.
Selain gangguan pada otot dan tulang, dr. Erta menjelaskan bahwa terdapat risiko penyakit kronis yang mengintai. Pembakaran lemak yang berjalan lebih lambat dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2.
Yang menarik, dr. Erta menegaskan bahwa olahraga rutin tidak serta-merta menghilangkan seluruh dampak negatif dari kebiasaan duduk terlalu lama. Artinya, seseorang yang rajin berolahraga tetap berisiko mengalami gangguan kesehatan apabila menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk.
Oleh karena itu, penting untuk menyelingi aktivitas duduk dengan gerakan sederhana seperti berdiri, berjalan kaki, atau melakukan peregangan secara berkala. Sesibuk apa pun aktivitas sehari-hari, tubuh tetap membutuhkan ruang untuk bergerak.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















