PONOROGO - Suasana bulan Ramadan identik dengan berburu menu takjil, mulai dari camilan ringan hingga makanan berat sebagai menu berbuka puasa. Di Ponorogo, jajanan tradisional Serabi Kerun Ayu masih menjadi primadona warga sebagai pilihan kuliner khas saat Ramadan.
Jajanan ini tetap digandrungi karena memiliki cita rasa gurih yang autentik. Keunikannya terletak pada proses pemasakan yang masih mempertahankan cara tradisional, yakni menggunakan kayu bakar dan tungku tanah liat.
Aroma khas kayu bakar tercium kuat dari sebuah warung sederhana di Jalan Raya Ponorogo–Solo, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Di bulan suci Ramadan seperti sekarang, warung serabi legendaris ini tak pernah sepi pembeli. Usaha ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap setia dengan resep leluhur.
Di atas tungku tanah liat, adonan serabi yang terbuat dari campuran tepung beras, kelapa, garam, dan air hangat dituang ke dalam cetakan. Api dari kayu bakar membuat serabi matang perlahan, menghasilkan tekstur lembut dengan pinggiran renyah serta aroma sangit yang menggugah selera.
Setelah diangkat, serabi disajikan dengan taburan kelapa parut segar. Perpaduan rasa gurih dan hangat menjadikannya sangat cocok untuk membatalkan puasa.
“Konsep tradisional masih kami terapkan dalam penjualan serabi ini. Alasannya, sejak turun-temurun memang sudah menggunakan cara tradisional dengan kayu bakar dalam proses masaknya,” ujar Endang Papik, sang penjual serabi.
Selama bulan Ramadan, penjualan serabi meningkat secara signifikan. Dalam sehari, Endang bisa menghabiskan tujuh hingga delapan panci besar adonan. Warung ini biasanya mulai buka sejak siang hari agar serabi sudah siap saat warga mulai menyerbu lokasi menjelang waktu berbuka.
Tak hanya gurih, Serabi Kerun Ayu juga dikenal mengenyangkan. Banyak pembeli mengaku cukup menyantap satu atau dua potong saja sudah terasa mantap sebagai pembuka.
“Bahan bakarnya masih tradisional pakai kayu, jadi rasanya enak dan ada aroma sangit-sangitnya. Kalau di tempat lain sudah menggunakan alat canggih. Ini jarang ditemukan dan salah satu yang unik di Ponorogo,” ujar salah satu pembeli.
Dengan harga Rp10.000, pembeli sudah bisa mendapatkan lima buah serabi. Harga yang sangat terjangkau ini menjadikannya takjil favorit warga selama Ramadan.
Di tengah gempuran kuliner kekinian, Serabi Kerun Ayu tetap bertahan dengan kesederhanaan dan cita rasa asli, menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa warga Ponorogo. Tapi jangan sampai "ngiler" sekarang ya, tunggu sampai beduk Magrib tiba! (Cahya Fitra)
Editor : Iwan Iwe

















