JAKARTA - Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terpantau melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026), di tengah badai polemik pembatasan transaksi rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Mas Botok. Isu penundaan transaksi rekening yang menampung dana donasi aksi unjuk rasa ini tak hanya memicu perdebatan hukum, tetapi juga merembet ke ranah sentimen pasar dan respons publik di dunia digital.
Saham BMRI Anjlok di Tengah Sorotan Publik
Berdasarkan data perdagangan pasar saham pada penutupan Selasa (25/8/2026), saham BMRI ditutup melemah di level Rp4.200 per lembar yang mencatatkan penurunan sebesar 0,47 persen atau terkoreksi 20 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp4.220. Sepanjang sesi perdagangan harian, pergerakan saham bank pelat merah ini sempat menyentuh rentang terendah di level Rp4.170 dengan volume transaksi tercatat mencapai 86,05 juta lembar saham.
Tekanan koreksi pasar ini terjadi beriringan dengan viralnya polemik pembekuan rekening bank milik Supriyono alias Botok yang berisi saldo sekitar Rp80,9 juta. Dana tersebut sedianya dihimpun dari kantong pribadi serta donasi masyarakat guna menunjang kebutuhan akomodasi dan logistik warga Pati yang akan menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta.
Menanggapi polemik tersebut, pihak Bank Mandiri telah menyampaikan permohonan maaf serta menegaskan bahwa tindakan pembatasan yang dilakukan telah merujuk pada permintaan resmi dari aparat penegak hukum sesuai prosedur yang berlaku. Di sisi lain, Polda Metro Jaya turut meluruskan bahwa instansinya tidak melakukan pemblokiran mutlak, melainkan mengajukan surat permintaan penundaan transaksi demi kepentingan penyelidikan aliran dana.

Gelombang Boikot Menggema di Media Sosial
Di tengah koreksi pergerakan saham di lantai bursa, gelombang kemarahan warganet justru semakin tak terkendali di ruang digital. Seruan untuk memboikot layanan perbankan Bank Mandiri mendadak menjadi topik hangat dan viral di berbagai platform media sosial sebagai bentuk protes atas tindakan pembatasan rekening yang dinilai sepihak dan meresahkan nasabah kecil.
Kemarahan publik tersebut ditunjukkan secara terbuka oleh pemilik akun Twitter/X cloudberry (@putriy04_). Dalam unggahannya, ia membagikan foto kartu ATM Bank Mandiri yang telah digunting-gunting menjadi beberapa bagian sebagai bentuk aksi protes nyata terhadap kebijakan pihak bank.
"Tarik semua saldonya, gunting2 kartunya, mampus luu @bankmandiri," tulis akun tersebut seraya mengajak para warganet lain untuk mengosongkan rekening dan meninggalkan layanan bank tersebut.
Aksi ekstrem dengan memindahkan seluruh saldo dan merusak kartu ATM secara simbolis ini merefleksikan hilangnya rasa aman nasabah. Derasnya arus aksi boikot visual di dunia maya ini menunjukkan bahwa persoalan administratif hukum telah berkembang menjadi krisis kepercayaan publik yang serius terhadap layanan perbankan nasional. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















