JEMBER - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember bersama Japanese Red Cross Society (JRCS) atau PMI Jepang menggelar evaluasi paruh waktu program kerja sama kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana.
Evaluasi ini dilakukan setelah kerja sama kedua lembaga berjalan selama 18 bulan, dari total masa kerja sama selama tiga tahun. Program tersebut berlangsung sejak November 2024 dan ditargetkan selesai pada tahun 2027.
Kegiatan evaluasi dimulai pada Kamis (25/06) dan dilakukan secara serentak di tiga desa. Yakni Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, serta Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.
Evaluasi ini dihadiri oleh perwakilan Japanese Red Cross Society, Sena Hasegawa, Novita Alifiani dari PMI Pusat, Yana Maulana selaku staf JRCS, serta sejumlah relawan PMI Kabupaten Jember.
Koordinator Lapangan SCR PMI Kabupaten Jember, Weni Catur, mengatakan evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana program yang sudah berjalan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
“Evaluasi bersama antara PMI dan JRCS ini akan berlangsung selama dua hari dimulai Kamis ini dengan mendatangi langsung tiga desa. Evaluasi tersebut untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang mulai terlihat termasuk peningkatan kapasitas, pengetahuan, perilaku, kesiapsiagaan serta penguatan sistem dan mekanisme yang mendukung ketangguhan sekolah dan masyarakat,” kata Weni Catur.
Dalam pelaksanaannya, evaluasi dilakukan dengan beberapa metode. Di antaranya melalui pendekatan evaluasi, pengumpulan data, serta penelaahan dokumen program.
Metode tersebut digunakan untuk mengetahui apakah tujuan, strategi, dan kegiatan yang dijalankan masih sesuai dengan kebutuhan masyarakat penerima manfaat. Selain itu, evaluasi juga melihat kesesuaian program dengan kondisi risiko bencana, kebijakan pemerintah, serta prioritas PMI dan JRCS.
Secara garis besar, kerja sama PMI Jember dan JRCS difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan bencana di lapangan. Program tersebut meliputi pelaksanaan Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB, pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, kesiapsiagaan bencana tingkat keluarga, peningkatan kapasitas relawan, serta penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah.
Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, S.Pd., mengatakan evaluasi paruh waktu ini penting dilakukan agar program yang sudah berjalan dapat diperbaiki dan dioptimalkan pada sisa masa kerja sama.
“Kerja sama antara PMI Kabupaten Jember dengan PMI Jepang berlangsung selama 3 tahun, dan saat ini sudah 18 bulan atau setengah perjalanan sehingga PMI dan JRCS melaksanakan evaluasi bersama untuk mengoptimalkan program di 18 bulan berikutnya hingga kerja sama selesai,” ujar Zainollah.
Hasil dari evaluasi ini nantinya akan menjadi dasar perbaikan program PMI Jember dan JRCS. Harapannya, program kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana tersebut mampu memperkuat ketangguhan sekolah dan masyarakat hingga akhir masa kerja sama pada tahun 2027.
Editor : JTV Jember



















