BLITAR - Puluhan hektar lahan padi di wilayah pesisir selatan Kabupaten Blitar diserang hama burung pipit yang diduga bermigrasi dari daerah lain. Serangan ini menyebabkan bulir-bulir padi yang sudah menguning dan siap dipanen habis dimakan, sehingga petani mengalami kerugian dan terancam gagal panen.
Dalam dua pekan terakhir, lahan pertanian di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Blitar Selatan, mengalami kerusakan parah akibat serangan gerombolan burung pipit. Petani setempat mengaku kewalahan menghadapi hama yang menyerang secara masif dari pagi hingga sore hari menjelang matahari terbenam.
Sukit, salah seorang petani, mengungkapkan bahwa ia harus pontang-panting bersama istrinya untuk mengusir burung-burung tersebut secara manual. Namun, upaya ini dinilai kurang efektif karena burung-burung itu hanya berpindah ke bagian sawah lainnya.
"Kami hanya bisa menunggui dan menggunakan cara-cara tradisional seperti memasang umbul-umbul plastik, orang-orangan, membunyikan kaleng bekas, atau menggantungkan kresek. Tapi hasilnya tidak maksimal," ujar Sukit.
Baca Juga : Kampus Pertama di Blitar Selatan Genap Berusia Satu Tahun, UMINA Siap Cetak SDM Unggul
Selain burung pipit, petani juga kerap menghadapi serangan hama lain seperti tikus, wereng, dan ulat. Namun, burung pipit dianggap sebagai ancaman paling serius saat musim panen mendekat karena frekuensi serangannya yang terjadi setiap hari.
Para petani berharap, meski dilakukan secara manual, upaya pengendalian hama ini dapat meminimalisir penurunan hasil produksi. Sementara itu, hingga saat ini belum ada solusi efektif dari pihak terkait untuk mengatasi serangan hama burung pipit yang terus mengancam pertanian di wilayah tersebut. (Moch. Asrofi)
Editor : JTV Kediri



















