Menu
Pencarian

Perubahan Kualitas Fitoplankton: Tantangan El Niño ‘Godzilla’ bagi Budidaya Tradisional

Portaljtv.com - Rabu, 20 Mei 2026 21:30
Perubahan Kualitas Fitoplankton: Tantangan El Niño ‘Godzilla’ bagi Budidaya Tradisional
Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si.

Fitoplankton adalah organisme berukuran sangat kecil (mikron) yang hidup melayang atau mengapung di permukaan air, seperti laut, sungai, atau danau. Fitoplankton seperti tumbuhan kecil yang memanfaatkan cahaya matahari untuk membuat makanan sendiri.

Proses ini memiliki istilah yang sering kita dengar dengan sebutan fotosintesis. Karena mampu menghasilkan makanannya sendiri, fitoplankton ini disebut juga dengan produsen yang dalam rantai makan berada pada posisi paling bawah atau merupakan makanan bagi organisme pemakan selanjutnya. Dalam proses fotosintesis, fitoplankton selain menghasilkan makannya sendiri juga menghasilan oksigen oksigen yang organisme lain hirup untuk respirasi. 

Kemampuan-kemampuan Fitoplankton tersebut dapat digambarkan sebagai “organisme penanda” yang memberikan informasi apakah sebuah perairan umum dalam keadaan subur atau tidak. Jika suatu perairan memiliki kualitas air yang baik maka jenis fitoplankton yang hidup di dalamnya akan beragam dan jumlahnya tidak berlebihan, jika air tercemar atau terlalu banyak limbah dan bahan organik (contohnya pupuk) masuk maka jenis fitoplankton tertentu bisa mendominasi dan tumbuh sangat pesat, sehingga air tampak sangat hijau atau keruh.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kualitas air mulai bermasalah. Karena kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton peka terhadap perubahan lingkungan, perubahan jenis dan jumlahnya dari waktu ke waktu dapat digunakan untuk “membaca” kondisi perairan.

Baca Juga :   Banyuwangi Siapkan Satgas Antisipasi Kemarau Panjang

Perubahan lingkungan sangat dipengaruhi oleh cuaca, di mana fenomena yang menjadi perbincangan tahun 2026 ini adalah El Nino. El Niño “Godzilla” adalah sebutan populer untuk kondisi El Niño yang diperkirakan sangat kuat, sehingga dampaknya terhadap cuaca dapat terasa lebih berat dari kemarau biasa di Indonesia.

Kemarau yang datang lebih cepat, bertahan lebih lama, dengan suhu udara lebih panas dan hujan jauh lebih sedikit, terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Contohnya, debit sungai menurun. Di sungai, waduk, dan danau, kemarau yang panjang menyebabkan permukaan air turun, aliran air melemah, dan suhu air naik.

Keadaan ini dapat menurunkan kualitas air salah satunya kadar oksigen terlarut. Di laut, El Niño dapat mengubah pola arus dan suhu air, serta menurunkan kadar bahan organik yang merupakan nutrien dari dasar laut sehingga kelimpahan fitoplankton menurun. Ketika fitoplankton berkurang, dasar rantai makanan ikut terganggu sehingga berdampak pada ikan dan hewan laut lainnya, tetapi bila terjadi ledakan fitoplankton tertentu (seperti blooming alga), air bisa berubah warna, oksigen berkurang, dan organisme lainnya berisiko mati massal. 

Baca Juga :   Antisipasi Kemarau Panjang, Banyuwangi Percepat Tanam Padi Serentak

El nino atau kemarau panjang menciptakan kondisi dimana fitoplankton cenderung lebih stabil dengan diatom yang mendominasi, salinitas lebih tinggi, dan masukan bahan organik (nutrien) dari daratan lebih sedikit. Kelimpahan fitoplankton umumnya lebih rendah dibanding musim hujan karena suplai nutrien terbatas, dengan berkurangnya aliran air membuat kondisi fitoplankton di perairan lebih seragam.

Selain pada perairan, el nino akan berdampak pada budidaya ikan secara umum khususnya bagi budidaya skala tradisional. Budidaya tradisional hanya mengandalkan air hujan atau aliran Sungai yang ketersediaan dan kualitas nya tergantung dari curah hujan. Suhu air yang lebih tinggi dan volume air yang berkurang membuat oksigen di air menurun, sehingga ikan cepat stres, nafsu makan turun, dan mudah terserang penyakit hingga mati.

Oleh sebab itu pembudidaya ikan tradisional untuk menjaga hasil produksinya harus melakukan beberapa penyesuaian. Salah satunya adalah dengan meningkatkan daya dukung kolam dengan menjaga keberadaan fitoplankton sehingga kualitas lingkungan perairan (air sebagai media budidaya) tetap terjaga.  

Dalam budidaya, Fitoplankton juga memainkan peran yang sama seperti di perannya diperairan umu yaitu berperan dalam siklus nutrisi, pengelolaan kualitas air, serta berfungsi sebagai sumber pakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi organisme yang dibudidayakan. Dalam sistem budidaya, fitoplankton berperan menjaga produktivitas primer yang menopang pertumbuhan zooplankton, yang kemudian menjadi pakan bagi komoditas yang dibudidayakan seperti larva ikan dan udang.

Di dalam media budidaya atau tambak, fitoplankton juga berfungsi sebagai “pengatur alami” kualitas air. Melalui proses fotosintesis, organisme ini membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut dan menekan keberadaan gas beracun seperti amonia, nitrit, dan hidrogen sulfida.

Di sisi lain, fitoplankton bersaing dengan mikroorganisme berbahaya dalam memanfaatkan nutrien, sehingga ikut menekan pertumbuhan bakteri patogen. Beberapa spesies bahkan dimanfaatkan sebagai bioindikator untuk memantau kondisi perairan, sehingga memudahkan pengelola dalam mengambil keputusan terkait manajemen lingkungan budidaya.

Salah satu contoh adalah kelimpahan dan keanekaragaman yang memicu suksesi komunitas, yakni pergeseran jenis yang dominan dari waktu ke waktu, yang pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas dan stabilitas kolam atau tambak.

Sejumlah pakar juga memberikan contoh penyesuian yaitu dengan sistem budidaya terpadu sebagai solusi jangka panjang. Integrasi komponen lain seperti rumput laut atau mangrove dalam sistem budidaya dinilai mampu menyerap kelebihan nutrien, serta memperbaiki kualitas air.

Selain itu, pendekatan ini memperkaya keanekaragaman hayati dan meningkatkan ketahanan ekosistem budidaya terhadap gangguan lingkungan. Seiring meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan kebutuhan produksi pangan sektor perikanan budidaya, pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem adalah solusinya.

Pemahaman dinamika fitoplankton dan hubungan dengan organisme lain di dalam kolam maupun tambak dinilai penting. Keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada teknologi dan pakan komersial, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan fitoplankton dalam merancang sistem budidaya perairan yang efisien sekaligus berkelanjutan. (*)

Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si.

Dosen Program Studi S1 Akuakultur

Fakultas Perikanan dan Kelautan

Universitas Airlangga

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.