JEMBER - Kolam ikan koi milik Wahyu Arifan di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, menjadi salah satu yang terdampak pemadaman listrik berulang.
Ikan koi membutuhkan pasokan listrik selama 24 jam untuk mengoperasikan sistem filtrasi dan aerator di kolam.
Ketika listrik padam, sistem filtrasi berhenti bekerja sehingga kualitas air menurun. Kondisi tersebut membuat ikan rentan terserang penyakit. Berkurangnya pasokan oksigen juga dapat menyebabkan ikan mati.
Dalam tiga pekan terakhir, pemadaman listrik terjadi sekitar lima kali dengan durasi lebih dari tiga jam. Akibatnya, sejumlah ikan mulai mengalami gangguan kesehatan.
Untuk mengantisipasi kematian ikan, pembudidaya menggunakan generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan. Namun, karena kapasitas dayanya terbatas, genset hanya digunakan untuk mengoperasikan aerator agar pasokan oksigen tetap tersedia.
Pemadaman listrik juga meningkatkan biaya operasional, mulai dari pembelian bahan bakar untuk genset hingga biaya pengobatan ikan yang sakit.
Ikan koi yang dibudidayakan merupakan ikan kontes dengan nilai jual berkisar antara Rp3 juta hingga Rp15 juta per ekor. Meski belum ada ikan yang mati, pembudidaya menilai risiko kerugian akan semakin besar apabila pemadaman listrik terus terjadi.
Editor : JTV Jember



















