PONOROGO - Sebuah inisiatif kreatif segar siap menggebrak Bumi Reog melalui gelaran Grebeg Sore Chapter 1. Mengusung semangat “Titik Temu Seni Bermasyarakat”, ajang kolaboratif ini hadir sebagai wadah yang mempertemukan seni tradisi, ekspresi urban, komunitas, UMKM lokal, hingga gaya hidup anak muda dalam satu ruang perayaan bersama.
Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 11 Juli 2026 di Taman Kota Kelono Sewandono, Ponorogo. Melalui konsep yang terbuka dan inklusif, Grebeg Sore Chapter 1 berkomitmen menyuguhkan pengalaman acara yang lebih tertata, komunikatif, serta memberikan ruang yang adil bagi seluruh pelaku ekosistem kreatif.
Pada puncak acara nanti, festival ini akan berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu Community Performance, Creative Showcase & Workshop, serta Booth, Bazaar & Local Market. Pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, melainkan diajak berinteraksi langsung melalui berbagai aktivitas komunitas yang dinamis.
Beberapa program andalan yang siap menjadi magnet utama antara lain Reog Ritus, Reyogland Hip-Hop, LS Model Fashion Catwalk, serta unjuk ketangkasan dari komunitas BMX dan Skateboard. Selain itu, panggung kreativitas juga akan diramaikan oleh C4 Ilustrasi, Cokro Sketsa, Ponorogo Clothing Society, seni Screen Printing, hingga area Thrifting yang merepresentasikan pertemuan antara tradisi dan kultur modern.
Baca Juga : Diduga Dipicu Pembakaran Sampah, Usaha Mebel di Ponorogo Ludes Dilalap Api
Project Owner Grebeg Sore Chapter 1, Lucky, menyampaikan bahwa festival ini dihadirkan sebagai ruang bersama yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Grebeg Sore Chapter 1 kami hadirkan sebagai ruang bersama. Bukan hanya panggung, bukan hanya bazar, tetapi tempat di mana seni, komunitas, produk lokal, dan masyarakat bisa bertemu dalam suasana yang hidup dan saling mendukung,” ujar Lucky.
Melalui wadah ini, seluruh elemen kreatif diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri melainkan dapat melebur dan berkolaborasi secara nyata dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Baca Juga : Kesal Jalan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Ponorogo Coret Badan Jalan sebagai Bentuk Protes
Senada dengan hal itu, Fajar dari tim Marketing dan Komunikasi Grebeg Sore Chapter 1 menegaskan bahwa acara ini membawa misi penting tentang pengelolaan acara yang partisipatif dan transparan.
“Grebeg Sore Chapter 1 lahir dari semangat untuk menunjukkan bahwa event budaya dan kreatif bisa dikelola dengan lebih rapi, lebih komunikatif, dan lebih berdampak. Kami ingin masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga ikut merasa memiliki ruang ini,” tegas Fajar.
Pihak penyelenggara ingin membuktikan bahwa festival kebudayaan daerah dapat dikemas secara profesional dan modern tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.
Baca Juga : Diisukan Ada Uang Pelicin SPMB, Komisi E DPRD Jatim dan Cabdindik Sidak SMAN 1 Ponorogo
Pendekatan unik juga diterapkan pada area tenant dan pasar lokal, di mana lapak para pelaku UMKM tidak sekadar memosisikan diri sebagai tempat transaksi jual-beli melainkan diubah menjadi experience area. Para pelaku usaha lokal didorong untuk menghadirkan menu terbatas, demo produk, kegiatan langsung, games interaktif, workshop mini, hingga sistem tenant passport atau stamp rally. Strategi ini diharapkan mampu mendongkrak keterikatan pengunjung sekaligus memperkuat perputaran roda ekonomi lokal Ponorogo selama tiga hari pelaksanaan acara.
Sebagai komitmen jangka panjang, Grebeg Sore dipastikan tidak akan berhenti sebagai kegiatan satu kali saja. Setelah pelaksanaan utama rampung, gerakan ini akan dikembangkan menjadi Grebeg Sore Community Series yang direncanakan berjalan rutin setiap dua hingga tiga bulan sekali. Program lanjutan tersebut akan dikemas dalam bentuk community live stream, promosi produk lokal, mini showcase, talkshow, hingga sesi wawancara bakat untuk terus menjaga panggung promosi bagi sponsor, media partner, dan komunitas pendukung secara berkelanjutan. (*)
Editor : Iwan Iwe

















