JOMBANG - Kerja keras dan ketekunan membuahkan hasil manis bagi Teman Hariono, 50, warga Dusun Kapringan, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Setelah menabung selama hampir 29 tahun dari hasil berjualan asongan, ia bersama istrinya, Jumilah, akhirnya mendapat panggilan berangkat haji pada 2026.
Sehari-hari, Hariono mengais rezeki dengan berjualan asongan dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari bus antarkota hingga berbagai acara keramaian seperti pengajian sedekah desa, pertunjukan jaranan, hingga reog. Di mana ada kerumunan, di situlah ia menawarkan dagangannya.
Perjuangan itu sudah dimulai sejak 1988, saat ia masih lajang. Setelah menikah pada 1997, Hariono tetap menekuni profesinya dengan penuh konsistensi. Penghasilannya yang semula sekitar Rp35 ribu per hari, kini meningkat menjadi sekitar Rp300 ribu per hari.
Dari penghasilan itulah, ia menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Nominalnya pun tak besar, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp100 ribu. Namun, kedisiplinan dalam menabung menjadi kunci utama.
“Sedikit-sedikit yang penting rutin. Niatnya memang ingin ke Tanah Suci,” ujar Hariono.
Hasil dari ketekunan tersebut mulai terlihat pada 2012, saat ia dan istrinya berhasil mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Meski harus menunggu belasan tahun, keduanya tetap sabar hingga akhirnya mendapat giliran berangkat pada tahun ini.
Bagi Hariono, perjalanan panjang ini bukan sekadar soal ibadah, tetapi juga bukti bahwa mimpi bisa diraih siapa saja, termasuk dari kalangan sederhana.
Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengantarkan seseorang meraih impian, meski dimulai dari keterbatasan. (Saiful Mualimin)
Editor : JTV Kediri



















