PACITAN - Sebuah koper dan beberapa tas dibawa masuk ke lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pacitan, Sabtu (15/8) pagi. Di antara ratusan peserta didik baru yang datang bersama orang tua masing-masing, ada Rokidah Dini Cahyani. Siswi asal Kecamatan Punung itu datang bukan sekadar untuk mengikuti hari pertama sekolah.
Ia datang membawa harapan untuk kembali menempuh pendidikan yang sempat terhenti. Di usianya yang kini 17 tahun, Rokidah seharusnya sudah berada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berhenti sekolah pada 2019 lalu.
Kini, setelah beberapa tahun meninggalkan bangku sekolah, Rokidah kembali mengenakan seragam dan bersiap menjalani kehidupan baru sebagai siswa Sekolah Rakyat. Sang ayah, Budianto, ikut mengantar. Berbagai perlengkapan untuk tinggal di asrama dibawa dari rumah, mulai pakaian hingga kebutuhan pribadi.
Bagi Budianto, momen tersebut terasa istimewa. Ia melihat Sekolah Rakyat sebagai jalan bagi anaknya untuk kembali mendapatkan pendidikan, sekaligus menjadi harapan bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. “Kami sangat terbantu dengan adanya Sekolah Rakyat ini. Terutama bagi warga yang kurang mampu. Anak-anak yang sebelumnya kesulitan melanjutkan sekolah sekarang punya kesempatan lagi,” ujar Budianto.
Baca Juga : Sekolah Rakyat Terintegrasi Ngawi Siap Terapkan Tiga Pilar Kurikulum
Bukan hanya Rokidah yang membawa cerita tentang perjuangan. Pagi itu, ratusan orang tua mengantarkan anak-anak mereka dengan harapan yang sama, yakni mendapatkan pendidikan yang layak tanpa terbebani persoalan biaya.
Suasana sekolah pun ramai. Para siswa baru mulai mengenal lingkungan yang selama beberapa tahun ke depan akan menjadi tempat mereka belajar sekaligus tinggal. Kepala SMA-SRT 1 Pacitan, Nanang Adang Kusdinar, mengatakan total ada 266 peserta didik baru yang mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS.
Rinciannya, 26 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 150 siswa jenjang SMA. Mereka bergabung dengan 148 peserta didik lama yang sebelumnya sudah menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. “Untuk siswa baru, SD ada 26, SMP 90, dan SMA 150 siswa. Kemudian ditambah 148 siswa lama,” kata Nanang.
Baca Juga : Pemkab Alokasikan Rp3,4 Miliar Bangun Akses Jalan Menuju SR Terintegrasi
MPLS akan berlangsung selama dua pekan hingga akhir Agustus. Tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, kegiatan ini juga menjadi masa bagi para siswa untuk beradaptasi dengan pola kehidupan di asrama. Setelah itu, mulai September, para siswa akan mengikuti matrikulasi sebagai bagian dari persiapan sebelum memasuki kegiatan pembelajaran. “Dua pekan ini mereka mengikuti MPLS sampai akhir Agustus. Kemudian mulai September masuk matrikulasi,” jelasnya.
Untuk menunjang kehidupan para siswa, sejumlah fasilitas di SRT 1 Pacitan juga telah tersedia. Mulai dari bangunan utama sekolah, asrama siswa dan guru, kantin, hingga gedung serbaguna. Fasilitas itu kini mulai dipenuhi suara anak-anak yang membawa cerita masing-masing.
Kini, ratusan peserta didik baru itu mulai menapaki lingkungan barunya. Sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kemandirian, disiplin, dan persaudaraan selama tinggal di asrama.
Baca Juga : Pemkab Ngawi Alokasikan Rp3,4 Miliar Bangun Akses Jalan Menuju Sekolah Rakyat Terintegrasi
Di balik ramainya hari pertama MPLS, tersimpan harapan besar dari para orang tua. Bahwa kesempatan belajar yang diberikan melalui Sekolah Rakyat dapat menjadi jalan bagi anak-anak mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dan dari gerbang Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pacitan inilah, perjalanan itu dimulai. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















