Power distance adalah sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Geert Hofstede, yang menggambarkan sejauh mana masyarakat menerima adanya ketidaksetaraan kekuasaan dalam struktur sosial.
Di Indonesia, power distance yang tinggi terlihat jelas dalam interaksi antara pemimpin dan masyarakat.
Power distance di Indonesia
Power distance di Indonesia tak lepas dari akar sejarahnya. Sebagai sebuah negara yang memiliki warisan feodal, hubungan antara masyarakat dan penguasa sering kali bersifat hierarkis.
Baca Juga : Politik di Era AI: Apakah Demokrasi Terancam?
Pemimpin dipandang sebagai sosok otoritas yang tak terbantahkan, sehingga ruang untuk menyampaikan kritik dan dialog yang konstruktif menjadi terbatas.
Indonesia tergolong dalam kategori negara dengan power distance yang tinggi, dengan skor 78 pada indeks Hofstede.
Hal tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung menerima adanya hierarki kekuasaan.
Baca Juga : Gus fawait sungkem orang tua dan mertua sebelum mencoblos.
Fenomena ini dapat dilihat dari cara pemimpin di berbagai level berinteraksi dengan rakyat, di mana pemimpin sering kali dianggap sebagai sosok otoritas yang tidak hanya memiliki kekuasaan formal, tetapi juga mendapatkan penghormatan secara sosial.
Malcolm gladwell dan dinamika komunikasi dalam budaya power distance
Malcolm Gladwell, dalam bukunya "Outliers: The Story of Success", menjelaskan pengaruh power distance terhadap komunikasi dan proses pengambilan keputusan.
Baca Juga : Jargon Politik Paslon Pilkada: Gagasan Nyata atau Retorika Semata?
Dia menggunakan contoh kecelakaan pesawat Korean Air yang terjadi pada tahun 1997, yakni ketika co-pilot yang berasal dari budaya dengan power distance tinggi cenderung tidak berani menantang arahan dari kapten.
Dalam ranah politik, keadaan serupa dapat muncul ketika pejabat atau anggota partai enggan untuk menantang kebijakan atau keputusan yang diambil oleh pemimpin.
Hal tersebut tidak terlepas dari ketakukan mereka akan konsekuensi yang mungkin timbul dan diterimanya.
Baca Juga : Menelisik Pengaruh Power Distance dalam Praktik Politik Indonesia
Gladwell mengemukakan bahwa dalam masyarakat yang memiliki power distance yang tinggi, individu yang berada di posisi bawah cenderung merasa enggan untuk mengkritik.
Hal ini sangat relevan dengan situasi di Indonesia, di mana suara masyarakat sering diabaikan.
Implikasi bagi demokrasi
Baca Juga : Peran Illusory Truth Effect dalam Pembentukan Propaganda Politik
Demokrasi yang baik memerlukan adanya hubungan yang lebih setara antara pemimpin dan rakyat. Namun, di Indonesia, power distance yang tinggi dapat menjadi penghalang tercapainya hal ini.
Power distance yang tinggi berimplikasi pada rendahnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan politik.
Di samping itu, budaya menghormati otoritas sering kali menimbulkan kepatuhan buta terhadap kebijakan pemerintah, meskipun kebijakan tersebut tidak selalu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mengurangi power distance dalam politik Indonesia adalah tantangan penting untuk memperkuat demokrasi.
Upaya ini dapat dimulai dengan meningkatkan pendidikan yang menekankan pemikiran kritis, mendorong transparansi pemerintahan, dan partisipasi aktif masyarakat.
Selain itu, penerapan komunikasi yang lebih terbuka dan kolaboratif dapat membantu mengurangi ketidaksetaraan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi politik masyarakat.
Editor : Khasan Rochmad