JEMBER - Inilah arak-arakan oncor atau obor penerangan tradisional yang dilakukan ratusan warga Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Jember, dalam rangkaian selamatan desa.
Arak-arakan ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan rezeki, sekaligus mempererat kerukunan serta melestarikan budaya dan tradisi lokal.
Konon, di desa tersebut dahulu kala dijaga oleh seekor harimau besar bernama Macan Si Kopek. Cerita Macan Kopek bertemu leluhur babat desa bernama Dewi Sekartaji ditampilkan dalam pagelaran seni bertajuk Ngarak Si Kopek. Kesenian ini mengangkat mitologi yang selama ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi tutur masyarakat Biting.
Pembina Sanggar Omah Wetan, Abdul Rashid atau Cak Sit, menyebut Macan Kopek memiliki makna filosofis sebagai pangreksa atau penjaga desa. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan upaya masyarakat merawat alam dan menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar.
Sebelum diwujudkan dalam pertunjukan, kisah Macan Kopek telah dibukukan dalam Babad Biting. Namun, cerita dalam bentuk tulisan dinilai belum cukup untuk menjangkau generasi muda.
Melalui kolaborasi dengan Universitas Jember, cerita tutur tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam seni rupa dan seni gerak.
Ketua Tim Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara, Fitri Nur Amurti, menjelaskan, Macan Kopek divisualisasikan menjadi maskot, sekaligus dikembangkan menjadi instrumen tradisional portabel yang disebut Klondang Kopekan.
Inovasi ini dinilai penting untuk memperkuat identitas dan akar budaya masyarakat Biting, sekaligus mencegah warisan lokal hilang ditelan perubahan zaman.
Bagi masyarakat Biting, Ngarak Si Kopek bukan sekadar pertunjukan seni. Kesenian ini diharapkan menumbuhkan rasa handarbeni atau rasa memiliki terhadap desa, khususnya di kalangan generasi muda.
Ngarak Si Kopek menjadi langkah awal mengubah cerita tutur menjadi karya seni yang lebih mudah diterima generasi muda, sekaligus menjaga agar mitologi Macan Kopek tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Dengan begitu, anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga turut menjaga dan mengembangkan identitas budaya daerahnya.
Editor : JTV Jember



















