Menu
Pencarian


Lebih Dari 37 Persen Percakapan Makan Bergizi Gratis di X Bernada Sindiran, Ini Temuan Riset UPN Veteran Jatim

Billy Reksodikromo - Kamis, 17 September 2026 09:00
Lebih Dari 37 Persen Percakapan Makan Bergizi Gratis di X Bernada Sindiran, Ini Temuan Riset UPN Veteran Jatim
ilustrasi program Makan Bergizi Gratis

SURABAYA - Kritik publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak selalu disampaikan secara terbuka. Mayoritas bahkan hadir di berbagai media sosial. Salah satunya melalui platform X.

Riset Program Studi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur menemukan lebih dari 37 persen percakapan mengenai MBG di platform X teridentifikasi mengandung karakteristik sindiran, sehingga tidak dapat dibaca secara harfiah.

Temuan tersebut tertuang dalam penelitian berjudul "Analisis Jaringan Interaksi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Deteksi Sarkasme di Media Sosial Menggunakan IndoBERT".

Penelitian tersebut menelusuri percakapan warganet sepanjang Maret hingga Mei 2026, dengan cakupan 2.414 akun dan 3.483 hubungan interaksi yang terbentuk dalam jaringan percakapan seputar program tersebut.

Baca Juga :   Ayo Rek, Beasiswa Unggulan 2026 Sudah Dibuka! Peluang Emas Kuliah Gratis Bagi Mahasiswa Baru dan Ongoing di Jawa Timur

Riset tersebut menjadi relevan karena MBG merupakan program pemerintah berskala nasional yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat dan terus menjadi bahan perbincangan di ruang digital.

Selama ini, respons publik terhadap sebuah kebijakan kerap diukur dari jumlah unggahan atau perbandingan sentimen positif dan negatif. Hasil penelitian memperlihatkan pendekatan semacam itu berisiko gagal menangkap maksud sebenarnya dari suara masyarakat.

Untuk membedah percakapan tersebut, peneliti menggabungkan dua pendekatan. Social Network Analysis (SNA) digunakan untuk memetakan bagaimana jaringan komunikasi terbentuk, aktor mana yang berada pada posisi strategis, serta bagaimana kelompok-kelompok percakapan berkembang.

Baca Juga :   Kolaborasi dengan Kelurahan Mojokampung, Kelompok 25 KKN SDGs Bela Negara UPN “Veteran” Jatim Kenalkan Inovasi Penunjang Bank Sampah Berbasis Teknologi Kompresa-25 untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Analisis itu kemudian diperkuat dengan IndoBERT, model bahasa berbasis Transformer untuk bahasa Indonesia, guna mengenali karakter emosi sekaligus mendeteksi penggunaan bahasa sindiran.

"Media sosial saat ini menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan terhadap kebijakan publik," ujar Indri Anjar Kartika Sari, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur.

"Karena itu, percakapan yang muncul di dalamnya perlu dibaca tidak hanya dari jumlah unggahan, tetapi juga dari pola interaksi dan konteks pesan yang disampaikan," tuturnya menambahkan.

Baca Juga :   Dari QRIS hingga Branding, Kelompok 25 KKN SDGs Bela Negara UPN “Veteran” Jawa Timur Dukung Penguatan UMKM di Mojokampung, Bojonegoro

Indri menjelaskan, pendekatan SNA memungkinkan peneliti membaca hubungan antarpengguna secara lebih terstruktur. Lewat pemetaan jaringan itu, peneliti dapat mengenali akun yang berada pada posisi strategis, kelompok percakapan yang terbentuk, hingga pola penyebaran informasi dan narasi mengenai MBG.

"SNA membantu kami melihat bagaimana jaringan percakapan terbentuk dan siapa saja aktor yang memiliki posisi penting dalam penyebaran informasi mengenai MBG di X," kata Indri.

Hasil pemetaan menunjukkan percakapan mengenai MBG terpecah ke dalam sejumlah kelompok komunikasi dengan pola interaksi yang berbeda-beda. Sejumlah akun menempati posisi lebih sentral dan berpotensi berperan besar dalam menyebarkan informasi maupun narasi seputar program tersebut.

Baca Juga :   Modal Uang THR, Mahasiswa UPN Jatim Sukses Bangun Bisnis Cuci Sepatu 'Lave Shoe Treatment'

Akun-akun semacam ini berpeluang memperluas jangkauan sebuah narasi sekaligus memicu percakapan lanjutan di antara pengguna lain. Hal ini memengaruhi arah dan penyebaran dalam ruang digital.

"Aktor yang berada pada posisi strategis dalam jaringan memiliki potensi lebih besar untuk memengaruhi arah dan penyebaran narasi dalam percakapan digital," ujar Indri lagi.

Temuan paling menonjol justru muncul dari lapisan bahasa. Lebih dari 37 persen data percakapan yang dianalisis tergolong mengandung sindiran. Ini menjadi salah satu hal yang penting dalam temuan.

Baca Juga :   Blusukan Padhange Ati Ramadhan, KH Imam Chambali Ungkap Tiga Perbuatan yang Membinasakan

Artinya, sebagian pengguna memilih menyampaikan pandangan melalui ironi, permainan kata, humor, atau pernyataan yang secara tekstual bermakna tertentu, tetapi menyimpan maksud berbeda.

Kalimat tampak positif belum tentu berupa dukungan, sebaliknya pernyataan yang terkesan ringan bisa jadi menyimpan kritik tajam terhadap kebijakan. Kondisi itu pula yang membuat penggunaan IndoBERT menjadi krusial.

Komunikasi di media sosial cenderung singkat, informal, dan sangat bergantung pada konteks, sehingga peneliti membutuhkan instrumen yang mampu membedakan pernyataan bermakna literal dengan pesan bernada sindiran.

"Sindiran menjadi salah satu bentuk komunikasi yang cukup kompleks karena makna yang tertulis tidak selalu sama dengan maksud yang ingin disampaikan oleh pengguna," jelas Indri.

Pergeseran perilaku komunikasi di ruang digital tersebut sejalan dengan perspektif yang dibahas Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan dalam buku Marketing 6.0: The Future Is Immersive yang diterbitkan Wiley pada Desember 2023.

Buku tersebut menyoroti perubahan pengalaman masyarakat akibat perkembangan teknologi serta kian rapatnya hubungan antara ruang fisik dan ruang digital.

Dalam kerangka itu, media sosial tidak lagi sekadar saluran untuk menerima dan menyebarkan informasi, melainkan arena masyarakat membentuk persepsi, melakukan evaluasi, hingga merespons kebijakan publik.

Menurut peneliti, temuan mengenai sindiran soal program MBG tersebut sekaligus menegaskan bahwa membaca opini publik di media sosial menuntut pendekatan yang lebih komprehensif.

Teknologi berbasis kecerdasan buatan memang sanggup mengolah data dalam jumlah besar, tetapi konteks komunikasi dan karakter bahasa masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam proses analisis.

"Kami melihat bahwa analisis media sosial perlu menggabungkan struktur jaringan, emosi, topik percakapan, serta karakter bahasa agar gambaran mengenai opini publik menjadi lebih utuh," tutur Indri.

Dengan demikian, memahami respons masyarakat terhadap MBG di ruang digital tidak cukup berhenti pada penghitungan jumlah respons atau perbandingan sentimen.

Perlu ditelusuri pula siapa yang berbicara, bagaimana pesan menyebar, kelompok komunikasi apa yang terbentuk, serta bagaimana makna sebuah pesan dibangun melalui konteks dan pilihan bahasa.

Bagi pemerintah maupun pengelola program, catatan itu menjadi pengingat bahwa ketidakpuasan publik bisa hadir dalam bentuk candaan, bukan hanya protes yang terang-terangan. 

Editor : Khasan Rochmad






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.