MAGETAN - Musim tanam tembakau tahun ini di Kabupaten Magetan tak seramai biasanya. Sejumlah lahan yang dulu hijau oleh tanaman tembakau kini berganti wajah, ditanami komoditas lain menyusul anjloknya minat petani akibat trauma musim lalu.
Berdasarkan data yang dihimpun, luas tanam tembakau di Kabupaten Magetan pada musim ini diperkirakan menyusut hingga 40-50 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencapai sekitar 750 hektare. Penurunan ini disebut-sebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Di wilayah Kecamatan Parang serta kawasan lereng Gunung Lawu seperti Plaosan, Poncol, dan Sidorejo, banyak lahan yang biasanya ditanami tembakau kini beralih ke komoditas lain, salah satunya kentang.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Magetan, Siswanto, mengungkapkan penurunan luas tanam ini dipicu dua faktor utama. Pertama, trauma petani atas kondisi musim tanam 2025 yang diguyur cuaca buruk sehingga harga jual anjlok. Kedua, banyak benih tembakau yang rusak akibat cuaca tak menentu saat musim tanam berlangsung.
Baca Juga : APTI Ngawi Minta DPPTK Bantu Perluas Akses Pasar Tembakau
"Penurunan ini memang ada dua faktor, yang pertama kemarin petani tembakau banyak yang trauma dengan musim tanam tahun 2025, dan tahun 2025 cuaca tidak mendukung terus luasannya banyak, terus harga turun dari tahun 2024. Yang kedua, pada saat musim tanam, benih banyak yang rusak karena cuaca yang tidak mendukung," ujar Siswanto.
Anomali cuaca membuat curah hujan masih tinggi saat memasuki musim tanam, sehingga banyak bibit tembakau yang baru ditanam mati dan meningkatkan risiko kerugian petani.
Ditambah lagi, harga tembakau daun basah sempat anjlok ke kisaran Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram pada musim lalu, disertai penurunan kualitas atau grade akibat cuaca yang tak bersahabat. Kondisi tersebut membuat banyak petani memilih mengalihkan lahannya untuk menanam kentang yang dinilai memiliki harga lebih stabil dan risiko lebih kecil.
Meski begitu, ada secercah harapan. Harga tembakau daun basah kini mulai membaik di kisaran Rp7.000 per kilogram. Petani memperkirakan harga masih berpotensi naik seiring rencana vendor seperti Djarum yang akan membuka gudang pada Agustus mendatang. Sayangnya, kenaikan harga tersebut belum cukup mendorong petani untuk kembali memperluas areal tanam pada musim ini.
Petani berharap cuaca lebih bersahabat dan harga beli terus membaik saat musim panen tiba, agar minat menanam tembakau kembali pulih dan luas tanam di Magetan tak terus tergerus.
Editor : Bagoes Ri



















