SURABAYA - “Lemah Ninggal Warah”, sebuah lakon yang lahir dari Oky Dwi Wicahyo, seorang sutradara dan penulis dari Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro, menjadi penutup malam minggu warga Surabaya pada momentum perayaan kemerdekaan Indonesia. Lakon ini ditampilkan sebagai salah satu karya akhir dari Manajemen Talenta 2026, sebuah program oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Jawa Timur yang berfokus menjaring potensi berkesenian komunitas seni di Jawa Timur. Setelah berhasil lolos menjadi salah satu finalis Manajemen Talenta, Sedhet Srepet tulis dan persiapkan penampilan ini untuk ditampilkan pada Sabtu, 15 Agustus 2026 di Gedung Cak Durasim Surabaya.
Terpilih menjadi salah satu finalis pada program workshop ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga bagi komunitas kesenian di Jawa Timur untuk mengembangkan ilmu kesenian dari sumber daya manusia pada komunitas tersebut. Oky memilih untuk mengerjakan naskah ini dalam rangka melayangkan kritik terhadap keprihatinan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas kehidupannya diapit oleh berbagai masalah sosial dari seluruh sisi. Salah satu daya tarik yang membedakan pementasan dari komunitas kesenian Bojonegoro ini dengan pementasan teater biasa adalah karena adanya penggabungan antara ‘sandur’ dengan seni teater, dalam upaya untuk mengangkat isu sosial seperti utang piutang, kemiskinan, kekuasaan, dan ambisi masyarakat Indonesia.
Secara umum, sandur sebenarnya merupakan sebuah kesenian asal Bojonegoro yang hanya memiliki satu cerita, yaitu tentang pertanian. Dimainkan oleh lima karakter utama; Tangsil, Pethak, Balong, Cawik, dan Germo, Oky berhasil perkenalkan unsur-unsur kesenian sandur dalam “Lemah Ninggal Warah” kepada 400 penonton di Gedung Cak Durasim. Sejak 2015, Oky telah bergelut di dunia seni sandur, kemudian berusaha memperkenalkan seni ini pada kalangan anak muda di Bojonegoro.
Dari segi produksi, Sedhet Srepet melakukan pengerjaan naskah lakon ini dalam dua bulan selama periode program Manajemen Talenta. Oky juga mengakui bahwa penulisan lakon ini dilakukan hanya dalam jangka waktu 10 hari. Dalam periode produksi yang tergolong ‘ngebut’ ini, Oky memanfaatkan waktu untuk menyusun kisah yang menyangkut isu sosial ke dalam seni sandur dengan memanfaatkan elemen teater pada lakon ini. Beliau mengaku bahwa kolaborasi ini ingin beliau bawakan karena dalam seni sandur secara otentik, cerita yang dibawakan tanpa adanya alur yang menarik dan hanya membahas soal pertanian.

Arti “Lemah” (tanah) dalam lakon ini bukan berarti hanya sebidang tempat berpijak, namun juga sebagai simbol kehidupan, martabat, dan identitas. Sementara “Ninggal Warah” bermakna meninggalkan pesan atau petuah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika warisan itu dipandang semata sebagai komoditas, yang terancam hilang bukan hanya tanahnya, tetapi juga ingatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan yang hidup di atasnya.
Dalam pementasannya, lakon ini memang menjadi konsep yang baru di mata pegiat seni teater karena menggunakan setting, keaktoran, karakter, dan aspek-aspek pementasan lain yang tidak align dengan teater konvensional. Oky menjelaskan bahwa pementasan ini bukan menggunakan konsep panggung seperti teater pada umumnya, melainkan menggunakan konsep “dolanan” atau bermain-main.
“Konsepnya ‘kepura-puraan yang ditampakkan’. Jadi ini permainan, tidak akting yang menghanyutkan. Dari awal sudah terlihat bahwa (penonton bisa mengira) ini ‘oh, permainan belaka,’” ujar Oky Dwi Cahyo ketika ditanya soal konsep pementasan ini. Beliau menjabarkan bahwa panggung ini merupakan sebuah sandiwara, sehingga setting-nya seperti anak bermain-main, hanya berputar-putar di satu tempat tanpa perpindahan.
Selain aktor yang memainkan karakter utama, Oky juga hadirkan sosok “Panjak”, rombongan yang bertugas menyanyi dan memberikan komentar terhadap alur cerita, sesuai dengan unsur pada seni sandur. Musik yang digunakan pada pementasan ini merupakan hasil adaptasi dari tembang-tembang lampau yang dinyanyikan oleh “orang-orang tua” pegiat seni sandur sejak dulu.
“Lampau sekali, sebelum (kesenian) ketoprak, sebelum wayang orang. Tidak ada dokumentasinya bagaimana cara mainnya, (jadi kita) nyari, kalau ada sandur di desa kita lihat,” urai Oky soal musik pada “Lemah Ninggal Warah”.

Secara keseluruhan, Lemah Ninggal Warah dapat disebut sebagai salah satu pementasan yang meninggalkan kesan baru terhadap penonton, khususnya pegiat seni teater, sekaligus memperkenalkan seni Jawa Timur yang “tersembunyi” atau masih belum diketahui banyak orang. (Azzahratul Humaira Balqis)
Editor : Iwan Iwe



















