TRENGGALEK - Kesenian Turonggo Yakso khas Kabupaten Trenggalek kian mengepakkan sayap hingga makin dikenal di luar Pulau Jawa. Namun, di balik popularitas yang terus melejit, para pelaku seni mewanti-wanti adanya ancaman tergerusnya pakem asli tarian tradisi tersebut.
Pelaku seni Turonggo Yakso, Agus Priyo Utomo, menilai kreativitas pertunjukan saat ini memang berkembang pesat. Bahkan, properti tari khas Trenggalek ini telah banyak diminati dan dikirim ke sejumlah daerah di luar Pulau Jawa, termasuk Papua dan Kalimantan.
Kendati demikian, pesatnya kreasi baru dinilai mulai menjauhkan gerakan tari dari akar aslinya. Putra dari tokoh penggagas Turonggo Yakso, Mbah Muan, itu menyebut sekitar 50 persen gerakan pakem kini mulai memudar dari panggung pementasan.
"Kreativitas tetap diperlukan agar Turonggo Yakso berkembang, tetapi jangan sampai meninggalkan pakem terlalu jauh," tegas Agus.
Guna membendung pengikisan tradisi, Agus mendorong adanya pembinaan berkelanjutan, termasuk pengenalan Turonggo Yakso sejak dini kepada generasi muda. Ia mencontohkan di Kecamatan Dongko, seni jaranan telah dikenalkan di lingkungan sekolah, meski kondisi serupa belum merata di seluruh Trenggalek.
Di sisi lain, Agus mengungkapkan bahwa Turonggo Yakso pernah diajukan oleh pihak Purwo Budoyo pada 2024 untuk didaftarkan sebagai identitas resmi Kabupaten Trenggalek. Sayang, hingga kini perkembangan status pendaftaran tersebut belum diketahui pasti.
Terkait gelaran Festival Turonggo Yakso, ia tidak mempermasalahkan keterlibatan peserta dari luar daerah. Hanya saja, ia berharap pertunjukan yang disajikan tetap mencerminkan karakter asli Turonggo Yakso.
Ia pun meminta pemerintah daerah turun tangan menggelar workshop dan pelatihan yang melibatkan seniman-seniman senior paham pakem. Hal ini krusial agar kesenian khas Trenggalek ini terus bertumbuh tanpa kehilangan identitas serta nilai sejarahnya.(Simon Bagus/Mochammad Herlambang)
Editor : JTV Kediri


















