TRENGGALEK - Pelestarian ekonomi mangrove di Desa Wonocoyo, Kabupaten Trenggalek, menjadi fokus perhatian dalam kegiatan penelitian lapangan yang melibatkan tim peneliti muda. Kegiatan ini mencakup observasi langsung dalam kawasan mangrove di lingkungan Pantai Kili-kili.
Selain itu, kegiatan juga diisi dengan penanaman ratusan bibit mangrove bersama masyarakat dan pemerintah setempat. Ini merupakan langkah awal dalam penataan dan pengelolaan ekosistem pesisir.
Dalam rangka penerapan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 (pertumbuhan ekonomi dan kehidupan yang layak), tujuan ke-13 (aksi perubahan iklim), dan ke-15 (kehidupan di darat), UPN Veteran Jawa Timur dan Desa Wonocoyo berkolaborasi dalam riset lapangan dan program pengabdian kepada masyarakat berbasis ekosistem mangrove.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan lima sukarelawan muda yang direkrut melalui sistem perekrutan terbuka di media sosial. Lima sukarelawan terpilih ini kemudian difasilitasi untuk memetakan secara awal ekosistem mangrove di Desa Wonocoyo
Mereka mempelajari sistem yang bekerja di kawasan tersebut. Selama pelaksanaan riset dan kegiatan lapangan lainnya, para sukarelawan mendapatkan fasilitas akomodasi yang disediakan penyelenggara.

Tim peneliti muda menemukan adanya permasalahan sampah yang dibawa dari hulu ke hilir sungai. Lokasi ekosistem mangrove Wonocoyo memang berdekatan dengan hilir sungai atau muara laut.
Hal tersebut membuat ketika curah hujan tinggi air akan turun dari hulu sungai, terutama dari beberapa desa di Kecamatan Panggul dan Watulimo, akan turun deras ke ekosistem mangrove dengan membawa banyak sampah.
Sampah menjadi terhambat pada tumbuhan bibit-bibit mangrove yang sudah ditanam. Dalam permasalahan ini sedikit berbeda dari ekosistem mangrove Surabaya yang sebelumnya.
Meskipun sama-sama pesisir, permasalahan sampah di Kebun Raya Mangrove Surabaya relatif lebih ringan karena sampah sudah dikelola sejak di kawasan perkotaan.
Hasil temuan itu menambah konsiderasi pengelola ekosistem mangrove di Wonocoyo akan pengembangan mangrove. Salah satu adaptasi yang dipraktikkan adalah masyarakat Wonocoyo tidak lagi menanam bibit mangrove yang dibawa dari luar kota.
Sebagai gantinya, masyarakat hanya menanam bibit mangrove yang tumbuh dan jatuh dari pohon yang sudah ada di ekosistem tersebut. Hal ini berhasil menekan biaya penanaman bibit.
Selain itu, biaya transportasi angkut bibit dari daerah lain bisa dialokasikan untuk adaptasi saat curah hujan lebat dan banyak sampah yang menyangkut di bibit mangrove.

Sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono, menyampaikan bahwa program ini merupakan inisiatif yang menjanjikan. Menurutnya, program ini sangat bagus untuk merawat mangrove di pesisir pantai.
"Program ini merupakan perkenalan dan inisiatif yang sangat bagus. Wonocoyo sendiri baru saja menerima penghargaan Juara II Nasional sebagai Desa Wisata Berbasis Atraksi Alam oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia," tuturnya.
"Dengan adanya penelitian lapangan berbasis ekosistem mangrove ini, bisa dijadikan rujukan pengembangan ekosistem mangrove Wonocoyo nanti ke depannya,” katanya menambahkan.
Selain kolaborasi antara UPN Veteran Jawa Timur dengan Desa Wonocoyo, program ini juga melibatkan Yayasan Mangrove Indonesia Lestari yang membantu proses rekrutmen terbuka untuk para sukarelawan, dan Yayasan Abyakta Acitya Bhumi (Akta Bumi) yang juga membantu dalam pelaksanaan di lapangan.
Program berbasis komunitas seperti ini juga turut mendukung pelibatan multi-layered stakeholders sehingga diharapkan muncul pemikiran dan pelaksanaan gagasan lintas bidang keilmuan untuk dapat merespons perubahan iklim dengan cepat namun terukur dan efektif.
Editor : Khasan Rochmad



















