NGAWI - Dampak musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Ngawi semakin memprihatinkan setelah wilayah yang terdampak krisis air bersih dilaporkan terus meluas hingga mencakup ribuan kepala keluarga pada Senin (19/10/2026).
"Untuk kekeringan Kabupaten Ngawi sampai tanggal 19 Oktober ini ada 7 kecamatan, 23 desa, dan 33 dusun. Kalau yang terdampak itu jumlah KK-nya sekitar 1.739 KK, atau sekitar 5.068 jiwa," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Yuda Herlambang.
Berdasarkan pendataan terbaru dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, ribuan warga yang tersebar di puluhan titik lokasi tersebut kini sangat bergantung pada pasokan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.
"Untuk kekeringan ini kan meluas. Dari kita mulai kirim itu, BPBD Ngawi mulai kirim mulai awal Agustus sampai sekarang, itu ada sekitar 215 tangki yang kita kirim," tambahnya.
Baca Juga : Karhutla Gunung Butak Padam, Luas Lahan Terbakar Capai 60 Hektare
Upaya penyaluran bantuan air bersih tersebut dilakukan secara berkelanjutan melalui sinergi bersama berbagai instansi dan lembaga kemanusiaan seperti PMI, Basarnas, hingga komunitas masyarakat demi memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi.
"Sinergi yang ada di Kabupaten Ngawi sampai sekarang masyarakat insyaallah tercukupi dengan putaran dua hari sekali dapat bantuan air bersih di 33 dusun itu," tutur Yuda.
Jika dibandingkan dengan periode kemarau tahun lalu, cakupan wilayah yang mengalami krisis air bersih pada tahun ini mencatatkan adanya perluasan ke beberapa dusun baru yang sebelumnya tidak terdata dalam pemetaan bencana.
Baca Juga : Pengadaan 2 Unit Mobil Damkar, Pemkab Ngawi Alokasikan Rp3 Miliar
"Kalau kita mengacu tahun 2023 hampir sama sekitar 23 desa, tapi ada kemunculan dusun baru yang belum termitigasi sebelumnya seperti di Dusun Bendo dan Bangunrejo," pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Ngawi sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan guna memaksimalkan penanganan serta penanggulangan krisis air bersih yang dihadapi warga hingga kondisi kembali normal.
Editor : Iwan Iwe























