SURABAYA - Pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal mendapat perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dengan menginisiasi langkah zero sampah plastik di lingkungan sekolah.
Upaya ini untuk menekan timbunan sampah, khususnya dari sektor pendidikan. Dindik Jatim melihat upaya penanganan sampah belum berjalan optimal.
Dari jumlah timbunan sampah nasional yang mencapai 55.474,16 ton per hari, hanya sekitar 35 persen atau 19.204,43 ton per hari yang berhasil dikelola.
Keseriusan mengelola sampah ini dibuktikan dengan diterbitkannya imbauan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur dengan 000.5/443/101.1/2026. Dalam edaran itu Kadindik Aries meminta agar setiap sekolah melakukan gerakkan pengurangan penggunaan bahan plastik dilingkungan sekolah.
"Kami ingin gerakan inisiasi ini menjadi langkah untuk meminimalisir sampah plastik. Karena kita tahu, penggunaan sekali pakai ini jika tidak dikelola dengan baik akan susah terurai oleh bumi. Dan kita harapkan langkah ini menjadi warisan untuk anak-anak kita kedepan untuk lebih mencintai bumi yang sehat," ujar Aries.
Kadindik lulusan IPDN ini juga menjabarkan resiko penggunaan sampah plastik yang berlebihan. Misalnya saja menyebabkan pencemaran tanah dan air, merusak ekosistem laut, memicu banjir akibat saluran air tersumbat, dan melepaskan zat beracun yang berbahaya bagi tubuh.
Karena itu, Dindik Jatim secara tegas meminta kepada sekolah agar menginbau para siswa dan pemilik kantin untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.
"Saya mengimbau agar siswa, sekolah dan kantin sekolah untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai. Baik berbahan plastik maupun berbahan lain yang menimbulkan sampah di lingkungan sekolah," ucap Aries.
Dalam gerakkan ini, Dindik bahkan mencetuskan lima gerakan mengurangi sampah plastik. Pertama, menggunakan alat makan yang dapat digunakan berulang kali. Dan tidak menggunakan plastik atau bungkus makan yang sekali pakai.
Kedua, menganjurkan membawa botol minum isi ulang (tumbler) dan sedotan pribadi.
Ketiga, menggunakan tas belaja berbahan kain untuk pembelian dilingkungan sekolah.
Keempat, meminta kantin sekolah mengurangi penggunakan bahan plastik dan styrofoam serta sejenis untuk membungkus makanan.
Terakhir, kelima kepala sekolah dan guru harus menjadi teladan bagi murid-murid di lingkungan sekolah untuk kampanye mengurangi sampah plastik dan kebersihan dilingkungan sekolah.
"Program ini kami harapkan dapat menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap pengelolaan sampah sejak dini sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan," tegas Aries. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















