Ada banyak kecurigaan kepada Gen Z, terutama dari generasi tua, jika mereka pemalas, mau enak sendiri, mager, dan lain sebagainya. Sayangnya, anggapan itu keluar dengan memakai kacamata masa lampau yang tentu saja sudah usang.
Gen Z tidak seperti itu.
Mereka lahir di mana teknologi sudah sedemikian maju. Zaman di mana komunikasi sudah tidak lagi personal. Maka, bercengkerama dengan mereka harus memakai point of view Gen Z.
Setiap hari saya berinteraksi dengan Gen Z. Portal JTV saat ini sedang mengadakan program magang JTV Digital di mana pesertanya berasal dari para mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur. 62 peserta magang semuanya adalah Gen Z.
Baca Juga : Generasi Muda Lelah dengan Janji Kosong, Ingin Aksi Nyata di Pilkada
Dalam berkomunikasi, Gen Z tidak ragu-ragu mengungkapkan apa yang di pikirannya. Sejauh yang amati, mereka berani bertanya jika ada hal-hal yang mereka tidak tahu dan pahami.
Google, Chat GPT, dan platform media sosial membuat Gen Z punya banyak pengetahuan. Tools-tools itu membuat mereka lebih pintar di usianya dibanding generasi pendahulunya. Maka meremehkan mereka dengan menganggap Gen Z anak kemarin sore adalah bencana.
Politik dan Gen Z
Baca Juga : Pilkada 2024: Penyandang Disabilitas di Persimpangan Omong Kosong dan Kotak Kosong
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pilkada serentak 2024 sebanyak 31.280.418 orang pemilih. Namun, data DPT terbaru belum memisahkan pemilih muda. Berdasarkan data DPT untuk Pilpres dan Pileg 2024, jumlah pemilih muda di Jatim mencapai 16.001.790 atau 51% dari total DPT.
Angka di atas tentu sangat besar dan bisa menentukan kemenangan di Pilkada serentak yang digelar pada 27 November mendatang. Paslon Pilkada wajib meraih simpati para pemilih muda jika ingin duduk di singgasana kepala daerah.
Kampanye Prabowo-Gibran di Pilpres lalu membuktikan tesis jika Gen Z menjadi satu kekuatan yang menentukan kemenangan adalah benar adanya. Kehadiran Prabowo-Gibran di semua platform media sosial dengan gimmick-gimmick yang disukai anak muda mengantarkan pasangan tersebut meraih kemenangan.
Baca Juga : Saatnya Memilih Pemimpin Berintegritas untuk Masa Depan Jawa Timur
Entah Anda suka atau tidak dengan gaya kampanye Prabowo-Gibran, namun kampanye gemoy hingga joget torang gas masuk di hati para Gen Z. Materi-materi kampanye mereka selalu trending di semua platform media sosial. Strategi ini bisa dipakai para paslon di Pilkada nanti.
Bukan berarti tim sukses harus meniru plek ketiplek apa yang dilakukan Prabowo-Gibran. Namun, tim sukses paslon harus memulai membuat materi kampanye sesuai dengan karakter Gen Z. Gaya kampanye seperti rapat akbar atau ziarah ke tokoh politik rasanya sudah tidak relevan. Tim sukses harus segera merancang model kampanye yang disukai anak muda.
Pelibatan para Gen Z dalam kampanye di Pilkada nanti menjadi keharusan jika ingin menang. Tim sukses harus memakai kacamatan audiens dalam menuliskan program-programnya. Mereka tidak bisa lagi memaksakan kacamata sendiri karena saat ini audiens jauh lebih berkuasa. Konten-konten yang mengandung program-program paslon yang tidak relevan akan mudah di-skip. Jari audiens sangat powerfull dalam menentukan konten mana yang layak diikuti.
Baca Juga : Pilkada dan Pentingnya Etika Politik: Tantangan Bagi Calon Pemimpin
Maka, meremehkan Gen Z di Pilkada nanti sama saja menggali kubur sendiri. Tim sukses harus segera menemukan formula yang tepat agar program-program dalam kampanye para paslon yang diusung bisa meraih simpati pemilih muda.
Siapa yang mampu meraih simpati Gen Z, mereka yang akan menjadi pemenangnya. Dan Gen Z adalah kunci. (*)
Baca Juga : Fenomena Kotak Kosong: Dampak Pasangan Calon Tunggal dalam Pilwali Surabaya
•} Iwan Iwe, Project Leader PortalJTV.com
Editor : Iwan Iwe