SURABAYA - Berbagai informasi mengenai pertumbuhan ekonomi, pelemahan rupiah, investasi, hingga perubahan harga kebutuhan sehari-hari kerap menjadi perhatian masyarakat. Namun, angka-angka tersebut tidak selalu menggambarkan secara utuh bagaimana kondisi ekonomi dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik pertumbuhan ekonomi, terdapat masyarakat yang berupaya menjaga daya beli; di balik tren investasi, ada generasi muda yang perlu mengambil keputusan keuangan secara bijak; dan di balik perubahan harga, ada keluarga yang harus menyesuaikan kebutuhan dengan pendapatan. Oleh karena itu, memahami ekonomi juga
berarti melihat fakta, konteks, dan realita yang terjadi di tengah masyarakat. Networking Summit 2026 menghadirkan perspektif pemerintahan, influencer edukasi ekonomi, dan mahasiswa. Perspektif pemerintahan dan sektor jasa keuangan disampaikan melalui pemaparan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur.
Bapak Ridwan Zia Kusumah, Asisten Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur, membahas perkembangan ekonomi global, nasional, dan Jawa Timur, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, investasi, serta prospek ekonomi daerah. Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen, sedangkan Jawa Timur mencapai 5,72 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Firdaus Aditya Rizqi, Deputi Direktur OJK Provinsi Jawa Timur, menyoroti pentingnya literasi dan inklusi keuangan bagi generasi muda. Peserta memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, pemilihan produk jasa keuangan, serta pentingnya
memperhatikan legalitas dan risiko sebelum berinvestasi. OJK juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap aktivitas keuangan ilegal dan tawaran investasi dengan keuntungan tidak wajar. Perspektif berikutnya disampaikan oleh Bapak Doddy Prayogo, influencer edukasi ekonomi yang dikenal melalui Doddy Bicara Investasi. Ia membahas pentingnya memahami instrumen investasi beserta risikonya sebelum mengambil keputusan. Di tengah derasnya informasi di media sosial, generasi muda diajak untuk tidak sekadar mengikuti tren atau merasa takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO). Keputusan investasi perlu didasarkan pada pengetahuan dan kesesuaian dengan kemampuan finansial masing-masing.
Sebagai perspektif terakhir, Muhammad Azhar Zidane, Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya 2026, menyampaikan pandangan mahasiswa mengenai dinamika ekonomi Indonesia. Pembahasannya menyoroti efisiensi anggaran pemerintah dan persoalan biaya hidup yang dekat dengan realita masyarakat. Perspektif ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi tidak hanya dapat dilihat melalui indikator dan kebijakan, tetapi juga melalui dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Ketua HMPBD FEB UNESA, Faiz Akbar Darmawan, menyampaikan bahwa Networking Summit 2026 menjadi wadah untuk mempertemukan beragam perspektif dalam memahami fenomena ekonomi Indonesia. Kehadiran panelis dari berbagai latar belakang diharapkan dapat memperkaya sudut pandang peserta dalam melihat persoalan ekonomi, baik melalui data dan indikator maupun realita yang berkembang di masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Networking Summit 2026, Muhammad Rifki Alviansyah, berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang bagi masyarakat dan peserta untuk memahami dinamika ekonomi Indonesia secara lebih jelas melalui berbagai perspektif. Pemahaman tersebut diharapkan tidak hanya bersumber dari informasi di media sosial yang kebenarannya belum tentu dapat dipastikan secara konkret, tetapi juga melalui fakta, data, dan realita yang disampaikan para panelis dengan latar belakang berbeda.
Melalui Networking Summit 2026, HMPBD FEB UNESA berharap mahasiswa dan generasi muda semakin kritis dalam menyaring informasi serta mampu memahami fenomena ekonomi secara menyeluruh. Sejalan dengan tema yang diangkat, kegiatan ini mengajak peserta untuk tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami realita dan cerita dibaliknya. (Fer).
Editor : Ferry Maulina























