SURABAYA - Festival Budaya Lintas Disabilitas 2025 digelar pada Sabtu pagi (7/12/2025) di Pendopo Jayengrono, Gedung Cak Durasim, Surabaya. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus perayaan bagi para penyandang disabilitas di Jawa Timur dalam momentum Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember.
Sejak pagi, suasana pendopo dipenuhi keceriaan. Anak-anak hingga peserta dewasa mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba mewarnai, lomba membuat replika hewan dari plastisin untuk peserta tunanetra, hingga pentas seni. Tari remo, pertunjukan wayang kulit, peragaan busana, dan drama musikal tampil bergantian. Ragam acara tersebut menunjukkan potensi besar para peserta dalam bidang seni dan kreativitas.

Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Istana Karya Difabel (IKD) Surabaya. Komunitas ini menjadi wadah pembinaan dan pengembangan bakat bagi penyandang disabilitas, terutama di bidang seni dan musik. Dipelopori oleh musisi Andi Elektrik, IKD telah menjadi tempat belajar dan berekspresi bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, sekaligus rutin menggelar kegiatan seni dan sosial untuk mengapresiasi karya mereka.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan festival tahun ini dinilai menunjukkan perkembangan signifikan, terutama dalam hal kemandirian ekonomi peserta. Awalnya, kegiatan ini digagas sebagai upaya agar para difabel, khususnya yang berusia sekitar 20 tahun, mampu memiliki penghasilan sendiri. Kini, hasil nyata mulai terlihat. Anak-anak binaan telah mampu menghasilkan berbagai produk, seperti batik, minuman tradisional, kopi, jasa sablon, hingga kerajinan gantungan kunci, yang menandai tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan mereka.
IKD juga telah mengembangkan program sosial melalui pendirian rumah singgah di wilayah Wiyung, Surabaya. Rumah singgah ini terbuka bagi anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia, terutama anak yatim piatu dan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal. Saat ini, sejumlah anak dari Sumatera, Tangerang, dan Jakarta telah bergabung. Anak-anak usia dini masih tinggal bersama orang tua, sementara peserta yang sudah dewasa mulai dibina untuk hidup lebih mandiri.

Tujuan utama festival ini tidak hanya sebatas memperingati Hari Disabilitas Internasional, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi musisi dan seniman difabel agar dapat tampil dan mendapatkan apresiasi yang setara. Selama ini, penyandang disabilitas, khususnya di Jawa Timur, dinilai masih menghadapi keterbatasan akses untuk menembus ruang-ruang seni arus utama. Melalui kegiatan ini, mereka mulai memperoleh tempat dan pengakuan dari masyarakat.
Peserta festival berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari tunanetra, tunarungu, penyandang autisme, hingga anak-anak dengan kondisi sindrom tertentu. Informasi keikutsertaan awalnya diperoleh melalui jaringan komunitas dan rumah singgah. Namun dalam empat tahun terakhir, kegiatan ini semakin dikenal luas dan menarik perhatian masyarakat.

Meski banyak kemajuan, penyelenggara mengakui festival ini masih menghadapi keterbatasan. Ruang pertunjukan di Surabaya dinilai belum cukup untuk menampung potensi besar para seniman difabel. Kesempatan tampil di panggung publik masih terbatas, sehingga karya mereka belum sepenuhnya dikenal masyarakat.
Ketua Komunitas IKD, Andy Setiawan berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih besar.
"Harapan utama kami ditujukan kepada pemerintah agar memberikan perhatian lebih, khususnya dalam hal pendanaan dan penyediaan panggung yang setara. Penyandang disabilitas diharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan seniman non-disabilitas tanpa adanya perbedaan perlakuan," ujarnya.
Melalui Festival Budaya Lintas Disabilitas 2025 ini, Andy Setiawan berharap ke depan pintu kolaborasi akan terbuka agar kegiatan serupa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak peserta di seluruh Indonesia. (Fadillah Putri/Nevenia)
Editor : M Fakhrurrozi



















