Dua spesies anggrek langka ditemukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tanaman tersebut adalah Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis. Keduanya ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru pada awal Januari 2026.
Kedua spesies ini merupakan temuan baru karena belum pernah tercatat dalam data anggrek yang tumbuh di kawasan tersebut. Penemuan ini terjadi saat petugas melakukan patroli sekaligus identifikasi biodiversitas di area konservasi.
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan BB TNBTS, Toni Artaka, menyampaikan bahwa kedua anggrek ditemukan pada habitat yang relatif sama, yakni kawasan teduh dengan tanah berhumus tebal dan kondisi yang cukup lembap pada ketinggian 1.000 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.
Dari sisi morfologi, Gastrodia selabintanensis memiliki panjang perbungaan sekitar 15 hingga 25 sentimeter dengan 2 hingga 4 kuntum bunga. Kelopak bunganya berwarna cokelat kehijauan dengan tekstur kasar dan berkutil, serta mahkota bunga berwarna putih semu hingga kekuningan.
Baca Juga : Dua Spesies Anggrek Langka Ditemukan di TNBTS, Tambah Kekayaan Flora Indonesia
Sementara itu, Gastrodia biruensis memiliki panjang perbungaan sekitar 18 hingga 32 sentimeter dengan 3 hingga 5 kuntum bunga. Kelopak bunganya berwarna cokelat kekuningan dengan tekstur halus, serta mahkota bunga berwarna putih dan oranye.
Kedua spesies ini termasuk dalam kelompok tumbuhan mycoheterotrophic, yakni tanaman yang sangat bergantung pada hubungan dengan jamur di dalam tanah untuk memperoleh nutrisi. Karakteristik ini membuatnya sulit untuk dibudidayakan di luar habitat aslinya.
Penemuan ini menambah jumlah spesies anggrek di kawasan TNBTS menjadi sekitar 309 jenis, sekaligus memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati penting di Indonesia.
Baca Juga : Awal Pekan, BMKG Prediksi Sebagian Besar Wilayah Jawa Timur Berpotensi Hujan Deras Disertai Petir
BB TNBTS menyatakan akan melakukan pemetaan sebaran populasi melalui identifikasi lanjutan di lokasi lain, terutama saat musim berbunga. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kondisi populasi serta mendukung upaya konservasi.
Selain itu, hingga saat ini kedua spesies anggrek tersebut belum memiliki nama lokal. Proses identifikasi lanjutan masih terus dilakukan untuk melengkapi data ilmiah terkait kedua tanaman tersebut. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















