PACITAN - Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, mencatat sejarah baru setelah berhasil meraih Juara I Lomba Tiga Pilar Tingkat Nasional 2026. Prestasi tersebut menjadi capaian pertama bagi desa di Pacitan dalam ajang tingkat nasional yang diikuti peserta dari 416 kabupaten dan 98 kota di seluruh Indonesia.
Keberhasilan Desa Nogosari tidak lepas dari sinergi antara pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta ketertiban di lingkungan desa. Kolaborasi tersebut dinilai mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara cepat, humanis, dan melibatkan masyarakat.
Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar mengatakan, prestasi Desa Nogosari menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pacitan. “Saya selaku Kapolres Pacitan menyampaikan rasa gembira dan bahagia. Lomba ini memang ditujukan untuk desa-desa terpilih yang mampu menunjukkan sinergi tiga pilar, yakni kepala desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas bersama masyarakat. Alhamdulillah, Desa Nogosari berhasil menjadi juara pertama tingkat nasional,” kata Ayub.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena kinerja aparat, melainkan hasil kolaborasi seluruh unsur yang ada di desa. “Tiga pilar ini tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah desa, TNI, Polri, dan masyarakat harus bersama-sama. Dan di Nogosari, sinergi itu berjalan dengan baik sehingga berbagai persoalan bisa ditangani secara cepat,” ujarnya.
Baca Juga : Tahap I Segera Berakhir, Dua Desa di Pacitan Masih Kosong Calon Kades
Selain mengandalkan budaya gotong royong, Desa Nogosari juga dinilai mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan dan keamanan masyarakat. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian dalam penilaian adalah program Trisula Naga dan aplikasi E-Thithir.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melaporkan gangguan keamanan, persoalan sosial, maupun potensi bencana hanya melalui telepon genggam. Laporan yang masuk kemudian diteruskan kepada perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas sehingga penanganan dapat dilakukan tanpa harus melalui birokrasi yang panjang.
Ayub menjelaskan, sistem tersebut dirancang agar laporan masyarakat dapat segera diketahui oleh unsur tiga pilar. “Jadi ketika ada laporan dari masyarakat, ada notifikasi yang masuk kepada sekretaris desa, perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Kemudian bisa langsung ditindaklanjuti,” jelasnya.
Baca Juga : Perundungan Disabilitas di Arjosari Berakhir Damai, Kakak Korban Pertanyakan Keadilan
Menurut Ayub, aplikasi E-Thithir juga dilengkapi fitur Google Maps dan geotag. Fitur tersebut membantu petugas mengetahui titik lokasi laporan sehingga dapat segera menuju lokasi. “Notifikasinya akan terus aktif sampai salah satu dari unsur tiga pilar datang ke lokasi. Jadi laporan itu tidak berhenti hanya karena sudah diterima, tetapi dipastikan ada respons di lapangan,” katanya.
Ia menilai inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk pelayanan publik yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digital. “Ini yang menurut kami menjadi salah satu keunggulan Desa Nogosari. Teknologi digunakan bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa desa sudah digital, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk memudahkan masyarakat ketika membutuhkan bantuan,” tambahnya.
Tak hanya dalam bidang keamanan dan pelayanan, Desa Nogosari juga memiliki kekuatan dalam budaya gotong royong dan kekompakan masyarakat. Desa tersebut juga dinilai mampu mengembangkan UMKM sebagai salah satu penopang perekonomian warga.
Baca Juga : 408 Siswa Bersiap Menempati Sekolah Rakyat Terintegrasi Pacitan, Pembangunan Capai 93 Persen
Ayub berharap prestasi yang diraih Desa Nogosari tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi dapat menjadi model yang diterapkan desa-desa lainnya. “Bukan hanya desa di Pacitan, desa-desa di seluruh Indonesia patut mencontoh Desa Nogosari. Banyak perubahan yang dilakukan, terutama dalam membangun pelayanan berbasis teknologi yang memudahkan masyarakat,” pungkasnya.
Keberhasilan Desa Nogosari menunjukkan bahwa keamanan dan ketertiban di tingkat desa tidak hanya bergantung pada kehadiran aparat. Sinergi, kepedulian masyarakat, budaya gotong royong, serta inovasi teknologi menjadi kekuatan penting dalam menciptakan desa yang aman, responsif, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















