Laju deforestasi di Indonesia pada 2025 mengalami peningkatan signifikan. Melansir Detikcom, kehilangan hutan mencapai 433.751 hektare, naik sekitar 66 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 261.575 hektare.
Temuan ini disampaikan oleh Auriga Nusantara berdasarkan pemantauan menggunakan citra satelit yang dikombinasikan dengan verifikasi lapangan serta berbagai sumber data pendukung.
Secara wilayah, Kalimantan masih menjadi penyumbang terbesar dengan luas deforestasi mencapai 158.283 hektare. Sementara itu, Papua mencatat peningkatan paling tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan juga terjadi di Pulau Jawa dengan kenaikan hingga 440 persen. Meski demikian, secara luasan total, angka deforestasi di Jawa masih relatif kecil dibandingkan wilayah lain.
Jika dilihat secara temporal, rata-rata deforestasi bulanan mencapai 36.146 hektare. Puncak kehilangan hutan tercatat terjadi pada periode April hingga Mei, dan kembali meningkat pada Oktober.
Sejumlah provinsi seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Aceh menjadi wilayah dengan tingkat deforestasi tertinggi. Di beberapa daerah di Sumatera, peningkatan deforestasi juga dikaitkan dengan terjadinya bencana banjir dan longsor.
Sebagian besar deforestasi dilaporkan terjadi di dalam kawasan hutan yang dikelola negara. Program ketahanan pangan disebut turut berkontribusi, dengan estimasi sekitar 18 persen dari total kehilangan hutan.
Di sisi lain, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyatakan bahwa perbedaan angka deforestasi dapat terjadi karena perbedaan definisi dan metodologi yang digunakan. Hal ini mencakup perbedaan dalam mengklasifikasikan perubahan tutupan hutan, apakah bersifat permanen atau sementara.
Menanggapi temuan tersebut, Auriga merekomendasikan sejumlah langkah, mulai dari penguatan perlindungan hutan alam, pengendalian tata ruang, perluasan kawasan konservasi, hingga peningkatan pengawasan serta tanggung jawab dalam pengelolaan hutan.
Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas, mulai dari kerusakan ekosistem dan hilangnya habitat satwa liar, hingga meningkatnya risiko bencana seperti banjir dan longsor. Selain itu, berkurangnya tutupan hutan turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon, mengingat hutan berperan penting sebagai penyerap karbon dalam upaya menekan laju perubahan iklim.
Hal ini kembali menjadi sorotan terhadap upaya perlindungan lingkungan di Indonesia, sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















