SURABAYA - Terik matahari masih menemani sejumlah wilayah Jawa Timur pada Rabu, (26/08/2026). Di tengah puncak musim kemarau, suhu siang dapat menembus 34 derajat Celsius di beberapa daerah. Kondisi ini membuat cuaca panas bukan sekadar keluhan, tetapi situasi yang perlu diantisipasi masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah Jawa Timur diprediksi cerah atau cerah berawan pada (26/08/2026). Suhu maksimum mencapai 33 derajat Celsius di sejumlah daerah, sedangkan beberapa wilayah dapat berada di kisaran 34 derajat Celsius. Kediri, Jombang, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Kota Mojokerto, dan Kota Madiun termasuk wilayah yang diprakirakan mencapai suhu maksimum 33 derajat Celsius. Kota Mojokerto tercatat berada pada rentang 24-34 derajat Celsius.
Di kawasan pesisir dan perkotaan, suhu juga relatif tinggi. Kota Surabaya diprakirakan cerah berawan dengan suhu 26–32 derajat Celsius, sedangkan Sidoarjo berada pada kisaran 25-32 derajat Celsius. Kondisi berbeda terlihat di wilayah yang lebih tinggi. Kota Batu diprakirakan berada pada 15-22 derajat Celsius, sementara Kota Malang berada pada 20-28 derajat Celsius.
Mengapa Udara Terasa Lebih Panas?
Salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya tutupan awan dan hujan. Ketika langit lebih cerah, radiasi Matahari lebih banyak mencapai permukaan Bumi pada siang hari. Selain itu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September. Karena itu, periode Agustus menjadi waktu yang perlu diwaspadai terhadap dampak kekeringan dan suhu panas.
Meski suhu 33–34 derajat Celsius belum otomatis berarti gelombang panas, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh. Paparan panas terlalu lama dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama ketika aktivitas fisik dilakukan di bawah sinar Matahari. Langkah sederhana seperti memperbanyak minum, menggunakan pakaian ringan, mengurangi aktivitas berat pada siang hari, dan mencari tempat teduh dapat membantu menjaga kondisi tubuh.
BMKG juga mengingatkan bahwa prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Masyarakat disarankan memeriksa pembaruan informasi cuaca sebelum bepergian atau melakukan kegiatan di luar ruangan.
Perbedaan suhu antar daerah juga dipengaruhi kondisi geografis, ketinggian, kedekatan dengan laut, tutupan awan, dan karakter permukaan wilayah. Artinya, label “cuaca panas” tidak selalu berarti seluruh Jawa Timur mengalami suhu yang sama. Pemantauan berdasarkan wilayah menjadi penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi setempat. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe























