JEMBER - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember (UNEJ), Giovanni Apta Chandrawinata, berhasil mempersembahkan prestasi membanggakan setelah meraih Medali Perunggu Bidang Biologi pada Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi atau ONMIPA-PT Tingkat Nasional 2026.
Ajang bergengsi tingkat nasional tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Belmawa Kemdiktisaintek di Universitas Airlangga pada 8 hingga 12 Juni 2026. Capaian ini menjadi bukti bahwa kerja keras, konsistensi, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan mampu mengantarkan mahasiswa UNEJ bersaing di tingkat nasional.
Prestasi Giovanni terasa semakin istimewa karena diraih setelah melalui perjalanan yang tidak mudah. Pada ONMIPA tahun 2025, ia sempat gagal lolos ke tingkat nasional. Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan mempersiapkan diri secara lebih matang.
“Motivasi saya sederhana. Saat SMA saya bisa meraih medali, maka saat kuliah saya juga harus bisa. Apalagi setelah gagal lolos pada tahun 2025, saya merasa harus berusaha lebih keras agar dapat memberikan hasil yang lebih baik pada tahun berikutnya,” ujar Giovanni saat ditemui di Fakultas Kedokteran UNEJ, Rabu (17/6/2026).
Motivasi Giovanni mengikuti ONMIPA tidak lepas dari pengalamannya saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Saat itu, ia pernah meraih medali perak pada Olimpiade Sains Nasional atau OSN bidang Biologi. Pengalaman tersebut menjadi penyemangat baginya untuk kembali membuktikan kemampuan di tingkat perguruan tinggi.
Di balik keberhasilannya, Giovanni harus menghadapi tantangan besar. Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, ia harus membagi waktu antara perkuliahan, ujian akademik, dan persiapan kompetisi. Bahkan, jadwal seleksi ONMIPA tingkat wilayah sempat bertepatan dengan pelaksanaan ujian kuliah.
Selain itu, Giovanni juga harus keluar dari zona nyaman karena bidang yang dilombakan tidak sepenuhnya sejalan dengan materi yang dipelajari di bangku kuliah. Kondisi tersebut membuatnya harus belajar lebih keras, memperdalam berbagai materi biologi secara mandiri, dan terus menantang batas kemampuan diri.
“Tantangan terbesar saya adalah membagi fokus antara ONMIPA dan kuliah. Pada tahun 2025 fokus saya sempat terbagi sehingga persiapan kurang optimal. Tahun ini saya berusaha mengatasinya dengan mengurus berbagai perizinan untuk mengikuti ujian susulan agar bisa lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi ONMIPA,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan persiapan, Giovanni memperdalam materi yang masih menjadi kelemahannya, seperti biosistematika dan taksonomi. Ia juga memanfaatkan buku referensi, bank soal tahun-tahun sebelumnya, serta aktif mengikuti pembinaan yang diberikan oleh universitas.
Menurutnya, keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, memperbaiki kekurangan, dan menjaga semangat dalam menghadapi tantangan.
“Kuncinya adalah memahami apa yang belum kita kuasai, lalu mempelajarinya semaksimal mungkin. Selain itu, doa dari orang tua, dukungan guru, dosen, dan teman-teman juga menjadi kekuatan besar bagi saya,” tuturnya.
Giovanni berharap prestasi yang diraihnya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba dan tidak merasa minder ketika bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi besar.
“Jangan pernah minder dengan kampus mana pun. Saya percaya semua memiliki kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah kemauan untuk belajar, berjuang, dan terus berkembang. Bukan dari mana kita berasal, tetapi seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk mencapai tujuan,” pungkasnya.
Ke depan, Giovanni berencana kembali mengikuti ONMIPA dengan target meraih medali yang lebih tinggi. Selain itu, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai kompetisi di bidang kedokteran, termasuk International Medical and Physiology Student Quiz atau IMSPQ yang akan digelar di Malaysia.
Editor : JTV Jember



















