Kemacetan berulang di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk kembali menuai keluhan dari kalangan sopir logistik. Antrean panjang dinilai berdampak langsung pada biaya operasional hingga potensi kerugian barang.
Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Selamet Barokah, menyebut kondisi ini membuat para sopir harus menanggung beban besar selama perjalanan.
“Pergerakan logistik jadi terhambat. BBM tidak efisien karena kendaraan harus terus menyala saat macet dan antre berjam-jam,” ujarnya, Selasa (31 Maret 2026).
Menurutnya, dampak kemacetan tidak hanya dirasakan sopir, tetapi juga masyarakat luas. Distribusi barang yang terhambat berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kalau logistik terganggu atau barang rusak karena terlalu lama di jalan, tentu berpengaruh ke harga di pasaran,” katanya.
Selamet juga menyoroti risiko yang dihadapi sopir selama antrean panjang, mulai dari kehabisan biaya operasional hingga ancaman klaim kerugian jika barang terlambat atau mengalami kerusakan.

“Kami ini bisa kena klaim kalau barang terlambat atau rusak. Sementara penyebabnya karena antrean yang tidak bisa dihindari,” tegasnya.
Ia menambahkan, ketidakpastian waktu sandar kapal juga memperparah kondisi. Banyak kapal harus menunggu di laut selama beberapa jam akibat keterbatasan dermaga.
“Sering kapal harus mengapung 2 sampai 3 jam sebelum sandar. Ini juga berisiko bagi keselamatan dan menambah waktu tunggu,” ungkapnya.
Selamet mengingatkan, jika tidak segera dibenahi, persoalan ini berpotensi semakin parah, terlebih dengan rencana peningkatan konektivitas jalur darat yang akan menambah volume kendaraan.
“Kami minta pemerintah segera hadir dengan solusi nyata, terutama penambahan dermaga dan peningkatan kapasitas pelabuhan,” katanya.
Ia menegaskan, kemacetan yang terjadi berulang kali tidak seharusnya terus dibebankan kepada masyarakat, khususnya para sopir logistik.
“Jangan sampai masyarakat terus jadi korban. Harus ada langkah konkret agar kemacetan ini tidak terulang dan merugikan semua pihak,” tuturnya.
Handoko Khusumo
Editor : JTV Banyuwangi



















