Menu
Pencarian


12 FOTOGRAFER ANGKAT SISI SURABAYA YANG JARANG TERLIHAT

Portaljtv.com - Sabtu, 19 September 2026 21:17
12 FOTOGRAFER ANGKAT SISI SURABAYA YANG JARANG TERLIHAT
12 FOTOGRAFER ANGKAT SISI SURABAYA YANG JARANG TERLIHAT. (Foto: Aurelia Rahma)

SURABAYA - Sebanyak 12 fotografer dari Indonesia dan Jerman mengangkat berbagai sisi kehidupan Kota Surabaya yang jarang terlihat melalui pameran bertajuk Suradaya – What Remains Unseen. Nama Suradaya sendiri dimaknai sebagai “Surabaya Berdaya”, yang merefleksikan semangat untuk melihat beragam cerita dan potensi yang ada di Kota Surabaya.

Pameran berlangsung di Orasis Art Space, Jalan Bukit Golf B2-25, Sambikerep, Surabaya, pada 18 hingga 27 September 2026. Mengusung tema Fight Against Misinformation, pameran ini mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam melihat dan memahami informasi visual.

Fotografi dalam program ini tidak hanya ditempatkan sebagai media dokumentasi, tetapi juga menjadi sarana untuk melihat kembali bagaimana sebuah kota direpresentasikan. Para peserta diajak mengamati hal-hal yang terlihat, yang tidak terlihat, hingga kemungkinan yang dapat muncul dari sebuah gambar.

Program lintas budaya Indonesia, Jerman, dan Prancis ini melibatkan sejumlah mitra, yakni Hochschule Hannover dari Jerman, École nationale supérieure de la photographie (ENSP) Arles dari Prancis, Universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra, Melihat Bersama, Matanesia, serta Orasis Art Space. Program tersebut mendapat dukungan dari Franco-German Cultural Fund.

Sebanyak 12 fotografer yang mengikuti program ini berasal dari berbagai latar belakang. Mereka yakni Amadeus Mozes Wiratmoko, Anugra Pratama Rameli, Claudia Suciono, David Akbar Maulana, Jasper Hill, Lowis Kassing, Luvita Ardiona P., M. Ranau Alejandro, Patricia Chelsea, Salwa Al Kharamain, Sherly Aprilia, dan Tufail Rosyad Abdi.

Dari jumlah tersebut, 10 peserta berasal dari Indonesia dan dua lainnya dari Jerman, dengan latar pengalaman yang beragam, mulai dari fotografer profesional hingga peserta yang masih mengembangkan minat di bidang fotografi.

Selama prosesnya, para peserta mendapatkan pendampingan dari lima mentor, yaitu Idealita Ismanto, Mamuk Ismuntoro, Kai Löffelbein dari Hochschule Hannover, Clément Caignart dari ENSP Arles, serta Jacob Vicari dari Hochschule Hannover yang mengikuti pendampingan secara daring. Para mentor memiliki latar pengalaman di bidang fotografi, jurnalistik, seni visual, media, hingga kecerdasan artifisial atau AI.

Salah satu peserta, Anugra Pratama Rameli, mengatakan proses penciptaan karya memberikan ruang bagi peserta untuk menentukan sendiri topik yang ingin diangkat dan melakukan pendekatan langsung dengan pihak terkait.

“Workshop bagian fotografi ini yang aku produksi ini di-handle mentor dari Jerman, Kai Löffelbein. Jadi kami tuh sudah dilepas, kami ajukan proposal, disetujui, kemudian kami kontak instansi yang terkait,” ujar Anugra.

Menurut Anugra, proses tersebut juga mempertemukannya dengan perbedaan perspektif antara peserta Indonesia dan mentor dari luar negeri. Hal yang dianggap menarik dari sudut pandang mentor asing, menurutnya, belum tentu dipandang sama oleh masyarakat Indonesia.

Ia kemudian melakukan pendekatan kepada pihak terkait sebelum mengambil gambar, salah satunya untuk karya Wira-Wiri dengan mengajukan izin kepada Dinas Perhubungan.

“Misalnya saya, Wira-Wiri, itu saya mengajukan ke Dishub. Saya minta surat pengantar, dapat izin, saya foto,” katanya.

Anugra berharap karya-karya yang ditampilkan dapat menunjukkan sisi Surabaya yang selama ini belum banyak terlihat.

“Kalau dari saya berharap dengan ini memang hasil-hasil karya kami ini bisa menggambarkan, bisa menunjukkan sisi Surabaya yang tidak terlihat, sesuai dengan judulnya,” ujarnya.

Sementara itu, mentor visual literasi Idealita Ismanto menjelaskan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan pendampingan dalam produksi karya. Mereka juga mengikuti rangkaian pembelajaran mengenai arsip dan penggunaan AI.

“Jadi saya kebetulan adalah mentor visual literasi. Pertama tentang arsip, yang kedua adalah tentang produksi karya, yang ketiga adalah IA. Itu adalah triple workshop sebenarnya. Kebetulan saya adalah mentor workshop yang pertama, mengangkat tentang arsip,” jelas Idealita.

Idealita mengatakan arsip tidak selalu harus dipahami sebagai foto lama yang menyimpan memori. Menurutnya, arsip juga dapat menjadi penanda waktu yang merekam kondisi suatu tempat pada masa tertentu.

“Terkadang kita melihat arsip sebagai foto lama, ya. Melihatkan memori, padahal dia sebenarnya adalah penanda waktu,” katanya.

Melalui karya yang dihasilkan, peserta mengangkat beragam cerita di Surabaya. Lowis Kassing, misalnya, mengangkat kondisi Kali Mas melalui karya Kali Ireng. Sementara Salwa Al Kharamain memotret kehidupan di kawasan Ampel melalui karya Echoes of Ampel.

Ada pula karya Amadeus Mozes Wiratmoko yang melihat perubahan kawasan Tunjungan dan Kampung Ketandan di tengah perkembangan ruang komersial. Tufail Rosyad Abdi mengangkat hubungan masyarakat dengan kawasan pemakaman Eropa Peneleh melalui karya The Space Between.

Sementara itu, David Akbar Maulana mendokumentasikan kehidupan Savero, seorang pelajar yang aktif menekuni tari Remo. Luvita Ardiona P. mengangkat skatepark sebagai ruang pertemuan anak muda dengan latar belakang yang beragam melalui karya The Ground Doesn't Ask Who You Are.

Karya Patricia Chelsea menyoroti ruang hijau dan aktivitas literasi di kawasan industri Surabaya melalui Alas Nusantara: Reclaiming Ancestry, Grassroots Literacy, and Forest in Urban Surabaya. Adapun M. Ranau Alejandro mengangkat perjalanan masuk ke komunitas musik alternatif Surabaya dalam Opening Narrative of Soup, Sweat & Sound.

Menurut Idealita, karya-karya tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih peka terhadap lingkungan yang selama ini mungkin hanya dilewati tanpa diperhatikan.

Ia berharap pengunjung dapat melihat kembali berbagai detail kehidupan di Surabaya melalui sudut pandang masing-masing.

“Mudah-mudahan foto ini akan mengingatkan pada kita bahwa setiap tempat, setiap orang itu punya sebuah cerita. Mungkin sekarang kita melihatnya sebagai sesuatu yang biasa, dan mungkin nanti ke depannya bisa menjadi sebuah arsip yang berharga di masa depan,” ujarnya.

Karya yang dipamerkan terdiri atas fotografi dokumenter, materi arsip, hingga karya berbasis kecerdasan artifisial. Selain menjadi ruang pamer, program ini juga membuka kesempatan bagi peserta dan pengunjung untuk bertukar pengalaman serta mendiskusikan cara sebuah gambar membentuk pemahaman terhadap suatu tempat.

Pameran Suradaya – What Remains Unseen dapat dikunjungi Selasa hingga Minggu, pukul 11.00 hingga 18.00 WIB. Pengunjung dapat memilih tiga sesi kunjungan, yakni pukul 11.00–13.00, 13.30–15.30, dan 16.00–18.00 WIB.

Reservasi tiket  dapat dilakukan melalui situs Orasis Art Space. Pengunjung yang mengalami kendala dalam pemesanan dapat menghubungi melalui DM Instagram @orasisartspace. Tiket juga tersedia secara langsung di lokasi atau on the spot, meski reservasi terlebih dahulu tetap dianjurkan.

Orasis Art Space juga menyediakan Akses Khusus tanpa biaya bagi anak usia 0–5 tahun, lansia usia 65 tahun ke atas, guru dan dosen, pekerja museum dan cagar budaya, serta media atau jurnalis. Selain itu, tersedia Akses Pelajar bagi pelajar dan mahasiswa yang dapat dibuktikan melalui kartu pelajar atau kartu mahasiswa dari institusi pendidikan terkait.

Setiap tiket kunjungan mencakup akses selama 120 menit ke seluruh area pameran, Art Station, sajian pembuka, panduan tur Orasis, serta voucher dari Corner by Orasis.

Selama pameran, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas, termasuk Art Station: Another Conversation with Sura & Baya, tur dengan Juru Bahasa Isyarat Indonesia setiap Minggu pada sesi kedua dan ketiga, serta tur khusus anak-anak pada akhir pekan.

Melalui rangkaian karya dan program tersebut, Suradaya menghadirkan Surabaya bukan hanya sebagai objek fotografi, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki beragam cerita, pengalaman, dan sudut pandang yang tidak selalu terlihat dalam satu gambar.

Reporter : Aurelia Rahma

Editor : A. Ramadhan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.