Nganjuk — Olahraga Petanque, yang berasal dari Prancis dan sedang populer di berbagai belahan dunia, mendapatkan perhatian baru setelah mahasiswa KKN Tematik UNESA 2025 mengenalkannya kepada pelajar sekolah dasar di Desa Berbek, Kabupaten Nganjuk. Acara yang diselenggarakan pada 7 November 2025 itu diikuti oleh murid kelas IV, V, dan VI, serta berlangsung dengan antusiasme yang tinggi meskipun tanpa sesi praktik langsung.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa KKN yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan informasi siswa mengenai berbagai cabang olahraga modern.
Petanque diambil sebagai pilihan karena dianggap aman, mudah untuk diterima secara teori, dan tidak memerlukan lapangan khusus untuk diperkenalkan di lingkungan sekolah dasar.
Olahraga Baru yang Dikenalkan di Sekolah Pada sesi pembukaan acara, MC menjelaskan bahwa Petanque adalah olahraga yang melibatkan pelemparan bola logam (Boules) dan telah menjadi cabang resmi SEA Games serta berbagai kompetisi Internasional lainnya. Di Indonesia, perkembangan olahraga ini terbilang pesat, terutama di kalangan mahasiswa, termasuk di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
“Banyak di antara siswa mungkin baru mengetahui tentang Petanque hari ini. Oleh karena itu, kami merasa penting untuk mengenalkan olahraga yang berpotensi untuk meraih prestasi besar,” ujar salah satu Mahasiswa KKN.
Para murid menunjukkan rasa ingin tahu ketika tahu bahwa olahraga ini berasal dari Prancis dan dimainkan dengan bola logam yang diluncurkan mendekati bola target bernama Jack. Penjelasan singkat tentang sejarah Petanque, aturan dasarnya, serta gambaran teknik permainan membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis.
Penyampaian Materi yang Terstruktur dan Mudah Dipahami Sosialisasi dilakukan melalui presentasi visual dan pencerahan interaktif yang dirancang agar mudah dipahami oleh siswa tingkat SD. Meskipun tidak ada sesi praktik, materi disampaikan secara teratur dan tetap informatif.
Narasumber menjelaskan asal-usul Petanque di La Ciotat, bagaimana olahraga ini menyebar ke Asia, dan perkembangannya di Indonesia. Mereka juga memperkenalkan perlengkapan standar seperti Boules dan Jack, serta menjelaskan teknik dasar seperti Pointing dan Shooting. Ilustrasi gambar serta infografik membantu siswa dalam menambah wawasan dan membayangkan bagaimana permainannya meski mereka belum melihat bola asli Petanque.
Guru yang mendampingi memberikan apresiasi terhadap cara penyampaian mahasiswa tersebut.
“Mereka menyampaikan materi dengan ringkas dan jelas. Anak-anak bisa mengikuti penjelasan tanpa merasa bingung meskipun olahraga ini sepenuhnya baru bagi mereka,” ungkapnya.
Prestasi Atlet UNESA Membuka Inspirasi Baru bagi Siswa Salah satu momen yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika mahasiswa KKN menunjukkan prestasi atlet Petanque UNESA. Mereka memamerkan foto-foto atlet yang telah mendapatkan medali dari kejuaraan tingkat provinsi sampai nasional.
Banyak siswa yang terlihat terkesan mengetahui bahwa olahraga yang baru mereka dengar ini ternyata sudah membawa atlet muda berpartisipasi dalam berbagai kompetisi bergengsi.
Narasumber menjelaskan bahwa Petanque bukan hanya sekadar permainan rekreasi, tetapi juga memiliki potensi besar di bidang prestasi untuk generasi muda. Dengan contoh riil perolehan medali, siswa diajak untuk menyadari bahwa olahraga ini memberikan kesempatan kompetisi yang terbuka bagi siapa saja.
“Dengan menunjukkan prestasi nyata, kami berharap siswa semakin termotivasi dan menyadari bahwa mereka juga bisa menjadi atlet jika memiliki minat,” ujar salah satu mahasiswa.
Video Demonstrasi Membawa Kehidupan dalam Permainan
Menjelang akhir kegiatan, mahasiswa KKN memutar video berdurasi lima menit yang menunjukkan demonstrasi permainan Petanque. Dalam video tersebut, ditampilkan posisi tubuh, teknik melempar, serta cuplikan pertandingan singkat. Penayangan video dilakukan setelah penyampaian seluruh materi utama, sehingga siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas dan konkret.
Saat video diputar, siswa menyaksikannya dengan penuh perhatian. Beberapa diantara mereka bahkan secara alami mencoba meniru gerakan melempar dari tempat duduk mereka.
“Sangat berguna, karena anak-anak bisa membayangkan bagaimana permainan ini berlangsung di lapangan meskipun hari ini tidak ada praktik,” ujar salah satu guru pendamping.
Diskusi Interaktif Dipenuhi Pertanyaan Siswa Setelah video usai, sesi diskusi dibuka dan segera dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan mengenai berat bola petanque, jarak lempar yang dipakai, hingga cara menentukan pemenang setiap ronde, membuat suasana kelas semakin hidup.
Mahasisw KKN menjawab semua pertanyaan dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap mengikuti prinsip dasar olahraga. Interaksi yang ramai ini menunjukkan minat siswa yang tinggi terhadap olahraga yang baru bagi mereka.
Guru olahraga memberikan penilaian bahwa respons aktif siswa menandakan keberhasilan program.
“Walaupun ini merupakan pertama kalinya mereka mengetahui Petanque, mereka berani bertanya dan benar-benar ingin mengerti tentang permainan ini,” jelasnya.
Peluang Ekstrakurikuler Baru di Sekolah Sekolah memberikan tanggapan positif terhadap sosialisasi ini dan menunjukkan minat untuk mempertimbangkan Petanque sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang baru. Dengan fasilitas yang diperlukan yang relatif sederhana, petanque dinilai cukup memungkinkan untuk diimplementasikan di sekolah. “Jika nantinya terdapat dukungan berupa alat dan pelatihan tambahan, tidak menutup kemungkinan Petanque bisa menjadi ekstrakurikuler baru,” ungkap guru olahraga tersebut.
Bagi mahasiswa KKN, hal ini menjadi pencapaian yang membanggakan, mengingat mereka telah membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal cabang olahraga modern yang belum banyak diperkenalkan di tingkat sekolah dasar.
Antusiasme Siswa Menjadi Motivasi Mahasiswa KKN Di akhir acara, koordinator KKN Tematik 2025 menyampaikan ucapan terima kasih kepada sekolah, guru pendamping, dan seluruh siswa atas kerja sama serta antusiasme mereka. Ia menegaskan bahwa respons aktif siswa menjadi motivasi yang besar bagi tim KKN dalam menjalankan program pengabdian.
“Kami sangat senang melihat siswa begitu bersemangat mempelajari olahraga Petanque. Semoga sosialisasi ini memberikan manfaat dan membuka peluang bagi mereka untuk menjelajahi olahraga baru,” paparnya.
Sosialisasi ini menjadi bukti konkret bagaimana mahasiswa dapat berperan dalam memperluas pengetahuan olahraga di masyarakat, terutama di lingkungan sekolah dasar. Walaupun tanpa praktik langsung, informasi yang disampaikan dinilai cukup lengkap dan mampu menimbulkan ketertarikan baru terhadap olahraga internasional yang masih kurang dikenal. (*)



















