Dalam praktik medis sehari-hari, saya sering menjumpai pasien yang menderita gangguan elektrolit namun tidak menyadarinya. Banyak yang mengira gejala yang mereka rasakan adalah akibat stres, penyakit saraf, atau gangguan jantung, padahal akar masalahnya terletak pada ketidakseimbangan mineral dalam tubuh.
Saya teringat kasus Bapak Sueb Susanto (52), seorang pejabat di Jawa Tengah. Karena rutin mengonsumsi obat darah tinggi dan diuretik (pencahar urine), kadar natriumnya menurun drastis. Beliau merasa lemas dan bicaranya mulai melantur. Awalnya beliau dianggap stres, namun setelah saya periksa, ternyata natriumnya merosot jauh di bawah angka normal 135 mEq/L. Setelah pemberian infus NaCl 3%, kondisinya langsung segar kembali.
Begitu pula dengan Ibu Tina (56) yang mengalami hiperkalemia (kalium tinggi) akibat masalah ginjal. Beliau mengalami kejang dan sesak napas hingga dikira menderita penyakit jantung. Ada juga Nona Sherlin (22) yang sering kram otot dan dianggap menderita gangguan saraf, padahal ia mengalami hipomagnesemia. Kasus-kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa gangguan elektrolit sering kali dianggap sepele, namun dampaknya bisa fatal. Mari kita bahas satu per satu.
1. Hiponatremia: Ketika Kadar Natrium Menurun
Hiponatremia adalah kondisi rendahnya kadar natrium dalam darah (di bawah 135 mEq/L). Natrium berfungsi mempertahankan volume cairan di pembuluh darah dan mengatur fungsi saraf serta otot. Jika kadarnya terlalu rendah, air akan masuk ke dalam jaringan dan menyebabkan sel tubuh membengkak. Apabila pembengkakan terjadi di otak, penderita bisa mengalami kejang hingga penurunan kesadaran.
Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan hormon (seperti penyakit Addison atau hipotiroidisme), diare parah, hingga penggunaan obat-obatan tertentu seperti diuretik dan antidepresan. Gejala yang patut diwaspadai meliputi mual, muntah, sakit kepala, lemas, hingga linglung.
2. Hiperkalemia: Ancaman Kalium Berlebih
Kalium sangat penting untuk fungsi saraf, otot, dan jantung. Namun, kadar kalium yang melebihi 5,0 mEq/L justru berbahaya. Kondisi ini sering menyerang lansia atau penderita gagal ginjal, diabetes, dan gagal jantung.
Gejalanya meliputi sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, hingga kelumpuhan otot pada kasus yang parah. Komplikasi yang paling mematikan adalah aritmia (gangguan irama jantung) yang dapat menyebabkan henti jantung mendadak. Penanganan medis memerlukan tindakan cepat seperti pemberian kalsium glukonat untuk melindungi jantung atau tindakan dialisis (cuci darah) jika fungsi ginjal sudah tidak memadai.
3. Hipomagnesemia: Defisiensi Magnesium
Magnesium berperan penting dalam mengubah makanan menjadi energi dan mengatur kontraksi otot. Seseorang dikatakan mengalami hipomagnesemia jika kadar magnesiumnya kurang dari 1,8 mg/dL. Kondisi ini sering ditemukan pada penderita diabetes tipe 2, pecandu alkohol, atau mereka yang mengalami diare kronis.
Ciri-ciri kekurangannya meliputi gejala awal seperti kelelahan dan mual, yang kemudian berkembang menjadi kram otot, tremor, hingga detak jantung yang tidak teratur. Jika dibiarkan, kadar magnesium yang rendah dapat meningkatkan risiko osteoporosis dan masalah jantung jangka panjang.
4. Hipokalsemia: Kekurangan Kalsium
Kalsium adalah mineral paling banyak di tubuh, berfungsi menjaga kekuatan tulang serta fungsi jantung. Kadar normalnya berkisar antara 8,8–10 mg/dL. Hipokalsemia dapat terjadi karena defisiensi vitamin D, gagal ginjal, atau gangguan kelenjar paratiroid.
Gejala yang muncul sering kali berupa kuku rapuh, kesemutan, kram otot di kaki, hingga halusinasi. Sebagai langkah pencegahan, saya menyarankan Anda untuk rutin berolahraga, berjemur di pagi hari selama 15 menit, serta mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, dan susu.
Sebagai penutup, saya ingatkan agar jangan meremehkan gejala ringan seperti kram atau badan lesu. Pemeriksaan rutin ke dokter sangat penting bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit kronis atau sedang mengonsumsi obat-obatan rutin. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda. (*)
Oleh: Dr. dr. Robert Arjuna, FEAS (Praktisi Dokter & Penulis Ilmu Kesehatan)
Editor : Iwan Iwe



















